Ringkasan Berita:
- Sebanyak 535 ZOM atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan kondisi diperkuat dengan El Nino yang sangat kuat dan IOD positif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026, sedangkan musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September-Oktober 2026.
- BMKG meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, ketersediaan air, serta dampaknya terhadap pangan dan sektor lainnya.
RakyatPos.id – Sebagian besar wilayah Indonesia masih memasuki musim kemarau tahun 2026 dengan kondisi cenderung lebih kering.
BMKG mencatat 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis Basis I Agustus 2026.
Kondisi kering diperkuat dengan El Nino yang mencapai intensitas sangat kuat dan IOD berada pada fase positif.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sedangkan sebagian wilayah lainnya mengalami puncak musim kemarau pada Juli dan September.
BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Curah hujan pada musim kemarau juga diperkirakan berada pada kategori di bawah normal atau lebih kering dari kondisi normal.
Baca juga: Wow! Anak Singapura Dapat Bantuan Negara Hampir Rp 1 Miliar hingga Usia 17 Tahun
Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung hingga September-Oktober 2026.
BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, penurunan kualitas udara, dan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, berdasarkan analisis Basis I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut seiring dengan perkembangan El Nino yang mencapai intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase positif.
BMKG menjelaskan El Nino yang intensitasnya sangat kuat disertai IOD positif mengindikasikan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
Kondisi ini turut memperkuat tren suasana semakin kering di sebagian besar wilayah.
Baca juga: Buruk! Malaysia dan Brunei Membawa Kasus Asap di Kalimantan ke ASEAN
Sejalan dengan kondisi tersebut, pada Tahun Ketiga bulan Agustus 2026, sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami curah hujan kategori rendah yaitu 0-50 milimeter per tahun.
Sementara wilayah lainnya diperkirakan sekitar 13,38 persen dengan curah hujan kategori sedang, yakni 50-150 milimeter per hari.
“Berkurangnya curah hujan berimplikasi pada sejumlah kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia,” tulis BMKG dalam keterangannya.




















