Wajah Suram Aceh Digital – Serambinews.com

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 09:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr Zahrila MAMantan Komisioner KPAID Aceh dan Guru Bimbingan Konseling di Aceh

SEBAGAI Ibu empat anak sekaligus ASN guru Bimbingan dan Konseling di Aceh ini, setiap harinya selalu berhadapan dengan ratusan siswa. Secara pribadi, saya melihat siswa di Aceh menghadapi ancaman nyata dari akses digital yang tidak terbatas tanpa pendidikan literasi yang sehat dan produktif.

Sebagai seorang guru, saya harus menyampaikan kenyataan yang ada. Dimana banyak sekali perilaku menyimpang pelajar yang saya temukan saat ini bersumber dari satu sumber permasalahan yaitu dunia digital tanpa pendidikan dan literasi. Tulisan ini saya tulis bukan untuk mengekspos aib para pelajar, namun realitas dunia digital Aceh yang semakin suram dapat dengan mudah terlihat pada aplikasi media sosial, seperti TikTok, Instagram, grup WhatsApp dan sejumlah aplikasi kencan yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai seorang guru, tentu saja saya tidak bisa mengungkapkan fakta empiris yang saya temukan secara terbuka, karena saya terikat oleh “kode etik” untuk menjaga rahasia siswa. Namun ada kalanya diam justru menjadi pengkhianatan terhadap masa depan mereka. Ketika penyimpangan ini terus terulang dan semakin brutal, kita harus mengakui dengan jujur ​​bahwa banyak sumber bencana bagi pelajar Aceh di masa depan adalah dunia digital.

Sementara itu, para pengambil kebijakan disibukkan dengan pembangunan gedung dan pagar sekolah berdasarkan gagasan utama dewan. Penguatan pelatihan, workshop yang mengedukasi pelajar Aceh mengenai pemanfaatan dunia digital masih sangat sedikit.

Generasi digital

Meski daya saing siswa Aceh rendah, namun hal ini selalu menjadi perbincangan setiap tahunnya, karena juga dipengaruhi oleh lemahnya daya saing guru. Sebagai seorang guru dari bidang ilmu pengetahuan sosial, indikator siswa yang terbaik juga dapat diukur dari perilakunya. Mampu memanfaatkan dunia digital untuk mempertajam analisis kognitif, afektif dan psikomotorik. Daripada membuat klub untuk menonton film porno, belajar ciuman, hamil saat di sekolah, dan pria menyukai pria di kalangan pelajar.

Pelajar Aceh saat ini hidup di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia digital. Sayangnya, dunia digital kini lebih dominan. Perangkat bukan lagi sekedar alat belajar. Perangkat telah menjadi ruang utama kehidupan mereka. Monster yang menghancurkan jiwa, perilaku dan mentalitas. Gadget telah menjadi wadah bagi pelajar untuk mencari hiburan, menjalin relasi, mengekspresikan diri tanpa menutupi bagian intimnya di TikTok dan Instagram dengan foto-foto mesum, bahkan mencari validasi sosial atas kekayaan orang tuanya.

Siswa diharapkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Persoalannya, tidak semua siswa tingkat SMP/SMK/MA di Aceh hasil pengamatan saya mempunyai kesiapan mental untuk memilih dan memilah apa yang layak untuk disaksikan atau disaksikan. Mereka berkembang pesat dalam hal teknologi, namun lambat dalam hal kedewasaan. Mereka mengaji, tapi menonton film porno di gawainya. Siswa dari orang tua kaya tapi suka mencuri. Anomali ini terus berkembang sehingga menimbulkan ketidakwajaran. Namun kenyataannya kita menemukan sesuatu yang janggal.

Ruang digital yang seharusnya dijadikan ruang pembelajaran malah berubah menjadi ruang pembentukan perilaku destruktif. Parahnya, orang tua tidak peduli. Inilah sumber bencana kedua. Orang tua Sami Mawon dan lingkungannya tidak peduli. Istilah pageu gampong dibicarakan dalam seminar, pelajar bisa dengan mudah bermain game online di warkop tanpa ada yang peduli. Di desa-desa kecamatan yang sudah memiliki internet, meunasah terkadang menjadi tempat anak-anak bermain game online, berjejaring dengan kata-kata kasar (teumeunak).

Esensi pentingnya, dunia digital dapat memberikan dampak positif bagi siswa dan remaja di Aceh, seperti mempercepat komunikasi antara siswa dan guru, membuka akses referensi ilmu pengetahuan, dan memperluas wawasan dan koneksi belajar. Namun di balik itu, kita selalu menemukan bahwa biang keladi pelajar dan remaja di Aceh saat ini adalah layar ponsel.

Kecanduan scrolling layar ponsel telah mengubah gaya hidup pelajar di Aceh. Sering marah, mengacaukan jadwal tidur, menjadi pendiam, terkesan patuh di hadapan orang tua dan guru. Kondisi ini berdampak pada terlantarnya ibadah, rasa malas, dan semakin menjauhnya interaksi sosial yang sehat serta produktivitas akademik.
Yang lebih buruk lagi, media sosial memupuk budaya perbandingan sosial yang kejam. Pelajar berlomba-lomba tampil mewah, tampil viral, tampil sempurna. Mereka lebih mempercayai influencer lulusan paket C dibandingkan orang yang berkompeten.

Di beberapa kabupaten dan kota di Aceh, siswa SMA dan sederajat yang menggunakan puluhan juta ponsel bermerek sudah menjadi hal yang lumrah. Justru di sinilah lahir kecemburuan sosial, tekanan psikis, bahkan tindakan nekat, yakni pelajar dan remaja mencuri, berbohong, menipu orang tua, bahkan menjual harga diri di beberapa layanan seksual demi gaya hidup. Kerusakan ini seringkali terjadi secara diam-diam, terkadang orang tua hampir tidak memperhatikan tanda-tandanya karena sibuk dan menuruti semua permintaan anaknya.

Seks bebas

Aceh mempunyai aturan pelaksanaan syariat Islam, khususnya mempunyai Dinas Syariat Islam, Dinas Pendidikan Dayah, mempunyai lembaga khusus seperti Biro Sekretariat Khusus Aceh, Dewan Adat Aceh, Dewan Pendidikan Aceh, mempunyai kampus negeri terbanyak di Sumatera, dan Aceh mempunyai Wilayatul Hisbah (WH). Namun identitas agama yang kuat dari segi regulasi, dalam realitas sosial, menunjukkan tanda-tanda pengabaian terhadap intervensi program sehat berbasis literasi digital bagi generasi Aceh.


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED
Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.
Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan
Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961
Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung
Heboh Mall Besar di Jakarta dan Surabaya Ramai Pasang Pagar Tinggi, Ada Apa?
Berita Pasar Saham dan Alat Penelitian
Tunjangan Kinerja TNI Meningkat, Berikut Rinciannya dari Prajurit hingga Jenderal Bintang 4

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:13 WIB

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:14 WIB

Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:59 WIB

Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:46 WIB

Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:35 WIB

Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung

Berita Terbaru