Ringkasan Berita:
- Hamparan persawahan di sejumlah desa di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, kini berubah menjadi lahan gersang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Permukaan tanah yang retak akibat kurangnya pasokan air memaksa ratusan petani menunda musim tanam.
- Sementara itu, ribuan bibit padi yang berumur sekitar 30 hari berisiko mati sebelum bisa dipindahkan ke sawah.
Laporan Jurnalis Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
RakyatPos.id, LHOKSUKON – Hamparan persawahan di sejumlah desa di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, kini berubah menjadi lahan gersang.
Permukaan tanah yang retak akibat kurangnya pasokan air memaksa ratusan petani menunda musim tanam.
Sementara itu, ribuan bibit padi yang berumur sekitar 30 hari terancam mati sebelum bisa dipindahkan ke sawah.
Setidaknya lebih dari 150 hektare sawah terdampak kekeringan. Kondisi ini terjadi di Desa Alue Drien, Seuneubok Baro, U Baro, dan Ceumpeudak. Berdasarkan informasi yang dihimpun, krisis air juga melanda persawahan di Desa Matang Teungoh, Pucok Alue, dan Batu 12.
Pengamatan di lapangan tidak menunjukkan adanya genangan air seperti biasanya menjelang musim tanam.
Yang terlihat hanyalah hamparan tanah kering dan pecah-pecah. Aktivitas petani hampir terhenti karena lahan belum layak untuk ditanami.
Ironisnya, sebagian besar petani sudah menyiapkan benih padi di persemaian. Rata-rata umurnya kini 30 hari dan seharusnya sudah dipindahkan ke lahan tanam. Namun tanpa adanya pasokan air, benih berisiko layu, rusak, bahkan mati sebelum ditanam.
Seorang petani di Desa Ceumpeudak, Muslem, mengaku sempat menanam sejumlah benih saat masih ada sisa air di sawah. Namun pengerjaan terpaksa terhenti karena lahan kembali mengering.
“Saya baru menanam padi ini saat masih ada air. Sekarang penanaman harus terhenti karena sawah sudah kering lagi. Sawah kami tadah hujan, jadi kami hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahan,” kata Muslem.
Saat ditemui di lokasi, Muslem didampingi Keuchik Ceumpeudak Abdul Jabar dan Geuchik U Baro Kahar Muzakar ST.
Menurut Muslem, jika hujan tidak segera turun, bukan hanya tanaman yang sudah ditanam saja yang terancam mati, tapi juga bibit yang masih berada di persemaian.
Hal ini akan memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli benih baru serta mengulangi seluruh proses penanaman.
Baca juga: UPDATE Harga Emas di Aceh Utara 9 Juli 2026: di Muara Batu per Mayam Rp 7.050.000
Keuchik Seuneubok Baro, Jon Junaidi mengatakan, permasalahan ini terjadi karena sawah di wilayahnya tidak memiliki jaringan irigasi yang memadai. Selama ini petani sangat bergantung pada curah hujan.

















