Jayapura, RakyatPos.id – Perubahan iklim dan meningkatnya dampaknya terhadap distribusi tuna, tingkat tangkapan, dan pendapatan perikanan di seluruh Pasifik Barat dan Tengah, menjadi sorotan utama dalam pertemuan para pihak di Nauru Treaty Office dan Otoritas Perikanan Nasional PNG, di Port Moresby, Jumat (10/7/2026).
Ketua Eksekutif PNA, Dr Saangalofa Clark, yang melakukan kunjungan kehormatan kepada Justin Ilakini, Direktur Eksekutif Otoritas Perikanan Nasional Papua Nugini (NFA) kemarin, menegaskan kembali kemitraan jangka panjang antara Papua Nugini dan PNA dalam memajukan pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan dan kerja sama regional, seperti dikutip RakyatPos.id dari laman tvwan.com.pg Sabtu (11/7/2026).
Kedua pemimpin mengakui bahwa perubahan kondisi laut menciptakan tantangan baru bagi negara-negara Kepulauan Pasifik dan menekankan pentingnya pengelolaan perikanan adaptif berbasis ilmu pengetahuan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya tuna dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan tersebut juga membahas diskusi regional yang sedang berlangsung mengenai pengaturan pengelolaan perikanan, peluang investasi dan evolusi Skema Hari Perahu di masa depan.
Kedua pemimpin mengakui beragamnya prioritas nasional negara-negara anggota dan sepakat bahwa dialog, inovasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan akan sangat penting untuk merespons secara efektif lanskap perikanan yang terus berkembang sekaligus melindungi kepentingan kolektif anggota PNA.
Mereka menyatakan keyakinannya bahwa fondasi kuat yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir akan terus berlanjut di bawah kepemimpinan mendatang.
Memastikan sumber daya tuna Pasifik dikelola secara berkelanjutan dan terus memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bagi masyarakat Pasifik.
Mengutip undp-nature.exposure.co,
Namun, stok tuna Pasifik – cakalang, sirip kuning, mata besar, dan albacore Pasifik Selatan tetap termasuk yang paling sehat di dunia. Ini bukanlah suatu kebetulan. Pasifik adalah satu-satunya perikanan tuna di cekungan samudera yang mencapai pencapaian ini.
Tuna adalah emas lautan, sehingga perikanan tuna komersial menyumbang lebih dari 40 miliar dolar AS setiap tahunnya terhadap perekonomian global. Total hasil tangkapan di Samudera Pasifik mempunyai nilai tertinggi dibandingkan kawasan lainnya, diperkirakan mencapai lebih dari 26 miliar dollar AS per tahun.
Wilayah ini kini menyumbang 54% tangkapan tuna dunia, menghasilkan rata-rata US$480 juta per tahun untuk biaya perizinan dan akses bagi pemerintah Pasifik selama lima tahun terakhir.
Negara tetangganya, PNG, adalah negara penghasil tuna terbesar di dunia, yang memasok sekitar 10% hingga 14% total tangkapan dunia. Industri ini banyak berfokus pada cakalang dan tuna sirip kuning.
Kota pesisir Madang berfungsi sebagai pusat pengolahan darat, didominasi oleh fasilitas besar seperti RD Tuna Canners, perusahaan kaleng tuna terbesar di PNG.
Postingan Perubahan Iklim Ancam Stok Tuna Pasifik pertama kali muncul di RakyatPos.id Papua.
















