Menjaga Hutan Mangrove Tanah Papua: Paru-Paru Terakhir Indonesia

- Jurnalis

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, RakyatPos.id – Hutan bakau Teluk Youtefa di Kota Jayapura merupakan satu-satunya hutan bakau di ibu kota yang bisa dijangkau melalui akses jalan raya di ibu kota Provinsi Papua.

Hutan bakau di Teluk Youtefa terlihat saat kita melintasi Jembatan Merah yang membentang di atas teluk. Kawasan ini merupakan hutan mangrove yang tersisa di Provinsi Papua.

Di balik pentingnya pembangunan di Kota Jayapura, termasuk jembatan dan jalan, terdapat banyak kawasan hutan bakau yang terisi. Ribuan bibit ikan pun harus mencari tempat pemijahan baru di hutan bakau lain.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peneliti sekaligus dosen Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA Universitas Cenderawasih John D Kallor mengatakan, jika memakai kacamata medis, hutan bakau di Teluk Youtefa termasuk dalam kategori 'sakit'.

Menurut Ketua Program Studi Perikanan ini, hutan mangrove kronis di Teluk Youtefa ditandai dengan berkurangnya luas, karena selalu ditimbun untuk dijadikan jalan bagi Waterfront City.

Dikatakannya, pengembangan kawasan hijau Teluk Youtefa semakin ditingkatkan dengan adanya jembatan Youtefa yang memperpendek perjalanan dari Kota Jayapura hingga perbatasan Negara Republik Indonesia dan Papua Nugini (RI-PNG).

Meminjam istilah John D Kallor tentang hutan bakau yang 'sakit', seberapa sehatkah hutan bakau di Tanah Papua?

Provinsi Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Tengah boleh berbangga karena memiliki hutan mangrove terluas di Indonesia. Namun pernahkah ada penelitian mendalam mengenai kondisi hutan mangrove yang kondisinya kurang baik?

Kenyataannya saat ini hutan rawa dan mangrove di Papua Selatan mengalami perubahan drastis. Hutan alam tropis tergantikan dengan jenis tanaman lain yang bersifat monokultur dan memerlukan banyak pupuk, kapur, semprotan hama dan sebagainya.

Ribuan ekskavator telah menghancurkan hutan semak dan dusun sagu untuk proyek-proyek yang mengatasnamakan pembangunan dan sumber daya tanaman pangan. Padi dan tebu menggusur hutan semak, dusun sagu, dan kakap rawa harus pindah ke rumah persembunyian di Trans Fly Park di Papua Nugini.

Belum lagi di Papua Tengah, sedimentasi tailing PT Freeport di hutan mangrove menyebabkan sungai dan laut di Kabupaten Mimika menjadi dangkal, padahal perusahaan tambang emas dan tembaga tersebut mengaku tetap melakukan penanaman mangrove.

Bahkan, warga Mimika, Kecamatan Poumako, mengaku kini terdapat lebih dari sembilan ekor ikan dan buaya di kawasan tersebut karena keduanya lebih tahan terhadap perubahan bentang alam akibat turunnya butiran pasir halus seperti bubuk yang disebut sedimentasi. Ini adalah sisa pasir penambangan.

Lantas dimanakah letak ikan kakap putih di hutan bakau Mimika? Ikan-ikan ini akan mencari hutan bakau baru untuk bertelur dan anak ikan untuk terus berkembang biak. Kecuali sembilan ikan dan buaya yang berkembang biak lebih cepat, karena mereka bertahan hidup lebih baik di lumpur sedimen sisa penambangan pasir.

Belum lagi hutan mangrove terluas di Papua Barat yang berada di Kabupaten Teluk Bintuni, harus berhadapan dengan perusahaan Tangguh LNG yang beroperasi di sana. Belum ada kajian rinci mengenai hilangnya hutan bakau di Tanah Papua, kecuali kajian mengenai rusaknya hutan bakau di Teluk Youtefa.

Meski begitu, Kepala Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (PDAS) Mamberamo-Kementerian Kehutanan Dewi Irma Haktisari mengatakan kepada Kantor Berita Antara di Nabire, luas mangrove di Tanah Papua mencapai sekitar 1,5 juta hektar atau sekitar 45 persen dari total luas mangrove Indonesia yang berjumlah 3,4 juta hektar.

“Indonesia adalah negara dengan hutan mangrove terluas di dunia. Papua adalah benteng terakhir paru-paru dunia,” kata Dewi Irma Haktisari.

Ia mengatakan keberadaan mangrove sangat penting karena mempunyai kemampuan menghasilkan oksigen lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan.

Harus diakui bahwa hutan mangrove merupakan ekosistem khas yang tumbuh di wilayah pesisir dan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasang surut air laut.

Vegetasi utama yang mendominasi kawasan ini berasal dari Rhizophora sp, Sonneratia sp, Avicennia sp, dan jenis mangrove lainnya.

Hutan bakau juga dikenal dengan berbagai istilah lain, misalnya hutan pasang surut (tidal forest), hutan pantai (coastal wood plant), hutan payau, atau hutan bakau.

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2024 yang diterbitkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. 594 Tahun 2025, total luas hutan mangrove di Indonesia tercatat seluas 3.440.464 hektar.

Sedangkan potensi luas habitat mangrove yang masih bisa direhabilitasi atau ditanami mencapai 769.824 hektar.

Sebaran hutan mangrove mencakup seluruh wilayah pesisir Indonesia, dengan wilayah Papua menjadi wilayah dengan tutupan mangrove terbesar yaitu 45,7% dari total nasional.

Disusul Kalimantan sebesar 21%, sedangkan Bali dan Nusa Tenggara (Bali-Nusra) menjadi wilayah dengan cakupan terkecil yaitu hanya 1,1% dari total luas mangrove Indonesia.

Berdasarkan provinsi, Papua Selatan memiliki tutupan mangrove terluas yaitu mencapai 624.075 hektar atau sekitar 18,14% dari total nasional.

Kabupaten Teluk Bintuni di Provinsi Papua Barat memiliki luas mangrove lebih dari 225.000 hektar yang menjadi salah satu benteng pertahanan ekosistem mangrove.

Provinsi Papua Tengah memiliki luas sekitar 281 ribu hektare yang tersebar di Kabupaten Nabire dan Mimika dengan kondisi yang masih sangat baik dan padat.

Menjelang Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mengajak seluruh pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, media dan seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam aksi penanaman mangrove serentak di berbagai wilayah Indonesia pada 26 Juli 2026 pukul 07.00 WITA yang dipusatkan di Bali.

Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Mangrove mempunyai peranan penting sebagai pelindung pantai dari abrasi, penyerap karbon alami, habitat keanekaragaman hayati, dan penunjang kehidupan masyarakat pesisir.

Oleh karena itu, melestarikan mangrove berarti menjaga masa depan lingkungan dan generasi mendatang.

Mengusung tema “Melindungi Mangrove, Menjamin Generasi Masa Depan”, peringatan tahun ini merupakan momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui aksi nyata, edukasi, publikasi, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Lestarikan Mangrove, Jaga Pesisir, Selamatkan Bumi untuk Generasi Mendatang, di tengah tantangan masa depan, hilangnya sisa hutan tropis di Tanah Papua merupakan gambaran terkini bagaimana para perencana, penguasa, dan wirausaha menggerogoti sisa paru-paru dunia. Selamat Hari Hutan Mangrove Sedunia.

Lanjutkan Membaca

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Ilmuwan Aceh Berbagi Pengalaman Soal Topan Senyar di Thailand, Türkiye Tuan Rumah AIWEST-DR 2027
Cole Hauser Tentang “Tantangan” 'Dutton Ranch' Tanpa Taylor Sheridan”.
Meski sudah meminta maaf, Hotman Paris tetap diproses hukum, Polda Metro memeriksa 10 saksi
Hilirisasi Kepulauan Andaman Sebagai Titik Balik Bagi Aceh
AJI Desak Prabowo Minta Maaf atas Tudingan Jurnalis Londo Ireng
Pesawat tempur F-16 Ukraina membuat sejarah dalam menyerang jet Su-35 Rusia
HRD Pimpin Kelompok PKB Aceh Audiensi dengan Wakil Ketua DPR RI
Gubernur Nawipa: HAN 2026 Momentum Hentikan Kekerasan Terhadap Anak

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 22:19 WIB

Ilmuwan Aceh Berbagi Pengalaman Soal Topan Senyar di Thailand, Türkiye Tuan Rumah AIWEST-DR 2027

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:59 WIB

Cole Hauser Tentang “Tantangan” 'Dutton Ranch' Tanpa Taylor Sheridan”.

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:48 WIB

Meski sudah meminta maaf, Hotman Paris tetap diproses hukum, Polda Metro memeriksa 10 saksi

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:34 WIB

Hilirisasi Kepulauan Andaman Sebagai Titik Balik Bagi Aceh

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:24 WIB

Menjaga Hutan Mangrove Tanah Papua: Paru-Paru Terakhir Indonesia

Berita Terbaru

HEADLINE

Hilirisasi Kepulauan Andaman Sebagai Titik Balik Bagi Aceh

Jumat, 24 Jul 2026 - 21:34 WIB