Jayapura, RakyatPos.id – Pemerintah Papua Nugini (PNG) telah membangun infrastruktur jalan darat di wilayah Sepik Besar yang meliputi Provinsi Sepik Barat dan Sepik Timur, mulai dari Wewak hingga Aitape hingga Vanimo dan seterusnya hingga Wutung, perbatasan Indonesia dan PNG.
Masyarakat di provinsi Sepik Barat telah menyaksikan peresmian infrastruktur jalan di bawah Program Connect PNG Roads yang diluncurkan oleh Pemerintah Marape Rosso.
Berbicara pada peluncuran Greater Sepik Region di Vanimo kemarin, Perdana Menteri James Marape mengatakan Program Connect PNG adalah inisiatif infrastruktur nasional yang paling signifikan sejak Kemerdekaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Visi kami jelas, tidak boleh ada bagian Papua Nugini yang terisolasi,” kata Marape, seperti dilansir RakyatPos.id dari laman insidepng.com, Selasa (14/7/2026).
Jalan dan jembatan yang termasuk dalam Komponen Daerah Sepik Besar antara lain Jalan Tol Sepik Timur dan Barat, jalan Vanimo hingga Wutung di perbatasan PNG-Papua Indonesia, dan penyegelan jalan Passam hingga stasiun Angoram di Provinsi Sepik Timur.
Connect PNG adalah program unggulan pemerintah yang dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan pemerintah provinsi untuk menghubungkan masyarakat dengan kota-kota utama melalui jaringan jalan.
Program berskala nasional ini diluncurkan pada tahun 2020 dengan visi untuk membangun lebih dari 16.000 kilometer jalan dan membangun koridor ekonomi di seluruh negeri.
Beberapa capaian yang diraih selama ini antara lain rehabilitasi 3.000 kilometer Dataran Tinggi dan Jalan Raya Pesisir Momase.
Jalan dari Wewak di Sepik Timur hingga Aitape di Sepik Barat dibangun oleh pemerintah, namun sebagian jalan dari Aitape hingga kota Vanimo dibangun oleh perusahaan penebangan kayu dan perkebunan kelapa sawit, khususnya perusahaan Malaysia, Rimbunan Hijau Group.
Perusahaan kayu Malaysia Rimbunan Hijau juga telah membangun hotel bintang lima di Port Moresby, Stanley Hotel.
Ruas jalan raya Aitape hingga Vanimo menjadi jalur bagi petani kakao dan vanila Papua Nugini untuk memperdagangkan hasil panen mereka di Indonesia dan mengunjungi Jayapura.
Melihat kesenjangan yang hilang dan manfaat ekonomi yang didapat dari jalan tersebut, perdana menteri mendorong para petani di Wilayah Greater Sepik untuk menanam produk mereka.
Marape mengatakan, secara historis Papua Nugini baru membangun jalan sekitar 10.000 kilometer.
Sejak menjabat, Marape mengatakan pemerintah telah memperluas jaringan jalan secara signifikan dan tetap berkomitmen untuk menyediakan lebih dari 20.000 kilometer jalan yang terhubung selama dua dekade ke depan.
“Inilah cara kami membuka negara kami dan menciptakan tulang punggung perekonomian kami,” kata Marape.
Berkaca pada masa kecilnya di salah satu komunitas pedesaan terpencil di Papua Nugini, Perdana Menteri Marape mengatakan dia memahami pentingnya akses jalan raya.
“Sebagai seorang anak laki-laki di daerah terpencil Oksapmin, saya menyaksikan ibu saya kehilangan putranya saat melahirkan karena bantuan tidak dapat menjangkau dia tepat waktu. Pengalaman itu selalu melekat dalam ingatan saya sepanjang hidup dan mengingatkan saya bahwa keterpencilan tidak boleh menentukan apakah masyarakat kita hidup atau mati,” kata Marape.
Catatan Jurnalis RakyatPos.id, jalan menuju Vanimo, ibu kota Provinsi Sepik Barat-Papua Nugini, dari perbatasan Wutung Papua Indonesia dapat ditempuh sekitar dua jam atau paling lama 1,5 jam dengan kendaraan roda empat atau angkutan umum mini bus dari terminal Wutung di wilayah PNG.
Pertama kali jurnalis jubi.id melakukan perjalanan dari Wutung menuju Vanimo adalah sekitar bulan April 2002. Saat itu jalan dari Wutung menuju Vanimo belum beraspal dan masih mengeras karang dan pasir sehingga perjalanan terganggu dan banyak debu serta kendaraan oleng karena jalan belum beraspal.
Pada awal Maret 2023, jalan menuju Vanimo akan diaspal dan jembatan lama akan diperbaiki agar jalanan lancar dan tidak ada lagi lubang.
Dikutip dari Kantor Berita Antara, warga Vanimo banyak yang datang berbelanja di Pasar Wutung di perbatasan Kota Jayapura dan PNG.
Jumlah warga Papua Nugini (PNG) yang melintasi perbatasan dari Vanimo menuju Kota Jayapura melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw-Wutung mencapai sekitar 200 orang setiap hari pada hari biasa.
Jumlah ini dapat meningkat pesat hingga lebih dari 1.000 orang ketika hari pasar atau hari libur perbatasan dibuka.
Lanjutkan Membaca
















