Ringkasan Berita:
- MIN 32 Bireuen menggelar Matamuda 2026 dengan memadukan tradisi Aceh berupa seumapa dan peuseuon (tepung terigu) yang diiringi lantunan shalawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Kepala MIN 32 Bireuen mengatakan, kegiatan ini mengkolaborasikan pendidikan modern dengan pelestarian budaya Islam dan kearifan lokal Aceh.
- Pengurus madrasah menilai tradisi peuseuon merupakan landasan pembentukan karakter keislaman, menanamkan rasa hormat terhadap ilmu dan guru, serta menghidupkan kembali warisan budaya endatu Aceh.
RakyatPos.id, BIREUEN – Kemeriahan dan suasana keagamaan yang kental mewarnai penyambutan siswa baru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 32 Bireuen melalui kegiatan Matamuda (Marasa Ta'aruf Siswa Baru Madrasah) di lingkungan madrasah, Senin-Rabu, 13-15 Juli 2026.
Madrasah di Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen ini memilih cara khusus untuk mengawali tahun ajaran baru, dengan menggelar tradisi seumapa dan peuseuon (tepung terigu), diiringi lantunan doa dari ratusan siswa, guru, dan staf madrasah.
Suasana berubah haru dan khidmat ketika doa mulai dilantunkan secara serentak oleh seluruh siswa MIN 32 Bireuen.
Suara yang menyatu ini mengiringi prosesi peuseuon sehingga menciptakan suasana yang sangat mengharukan bagi setiap orang yang hadir.
Kepala MIN 32 Bireueun Kamaliah, S.PdI, M.Ag mengatakan kegiatan Matamuda yang dikemas dalam pakaian adat Aceh ini mendapat apresiasi yang luar biasa dan dinilai sangat positif oleh orang tua siswa dan masyarakat sekitar.
“Program Matamuda di MIN 32 berhasil mengkolaborasikan nilai-nilai pendidikan modern dengan pelestarian budaya Islam dan budaya lokal yang mulai langka di era digital,” kata Kamilah.
Baca juga: Ahli Waris Korban Meninggal Dunia dan Luka Berat Akibat Banjir di Bireuen Dapat Bantuan, Ini Nilainya
Demikian dikutip dari siaran pers yang dikirimkan ke Serambinews.com, Rabu (15/7/2026).
Salah satu orang tua yang hadir tampak tak mampu menyembunyikan perasaan haru dan bangganya.
Sambil menyaksikan putranya mengikuti prosesi tersebut, ia menyuarakan sebuah hadih maja kuno (pepatah Aceh) yang sarat makna filosofis:
“Tari adat jameun dilee, Cit peureulee ta tampil, Ta peuseuon fhon Jak Cok ilmee, Seunuleueng guree bulukan adang,”.
(Artinya: Tradisi-tradisi indah pada zaman dahulu, sangat perlu kita bawa kembali.
Kita mengagungkan/menjunjung tinggi langkah awal dalam mencari ilmu, sebagai bentuk penghormatan dan restu dari guru agar ilmu melekat sepanjang hayat).
Baca juga: Satu unit Daihatsu Feroza terbakar di Bireuen, pemiliknya mengalami luka bakar
Ketua Panitia MIN 32 Bireuen Tgk Syarwanuddin menyatakan, kegiatan ini sengaja dirancang bukan sekedar seremonial penyambutan, namun sebagai peletakan batu pertama akhlak Islami bagi anak-anak.
“Melalui tradisi peuseuon, siswa diajarkan untuk menghargai proses, mengagungkan ilmu, dan merasa bangga menjadi siswa di MIN 32 Bireueun,” kata Tgk Syarwan.
Ditambahkannya, dengan suksesnya perhelatan Matamuda tahun ini, MIN 32 Bireuen tak hanya berhasil menyambut generasi penerus bangsa dengan gembira.
Namun juga berhasil menghidupkan kembali semangat kearifan lokal endatu di tengah masyarakat modern yang sudah melupakan adat istiadat endatu, pungkas Tgk Syarwan.

















