Ringkasan Berita:
- Puitika Kopi di Kedai Kopi Cut Ayah, Banda Aceh menghadirkan seniman dan pejabat Aceh dalam suasana santai penuh puisi, musik, tawa dan cerita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Sekda Aceh M Nasir mencuri perhatian saat membacakan puisi karya AI dan menceritakan pengalaman cintanya selama kuliah di Yogyakarta.
- Berbagai puisi menyuarakan persoalan lingkungan, sosial, cinta, dan ekonomi. Nasir meyakini interaksi dengan seniman dan puisi bisa membuka ruang di hati.
RakyatPos.id – Ada kopi, ada cerita, kopi lagi lain cerita, tidak ada kopi, tak perlu banyak cerita, ngopi yuk, yuk bercerita, banyak kopi, banyak cerita.
Ayatnya menyenangkan. Seluruh pengunjung menyanyikannya bersama-sama di Puitika Kopi di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh, Jumat malam (10 Juli 2026).
Itu lagu nasional Serangkaian Bunga Kopi karya Yoppi Smong, saya tambah satu kalimat, kata artis Fikar W Eda Fikar yang menjadi pembawa acara, Sabtu (11 Juli 2026).
Demikian dikutip Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr Nurlis Effendi, dalam siaran persnya kepada Serambinews.com, Minggu (11/7/2026).
Lagu itulah yang menjadi inti mengalirnya Puitika Kopi tanpa basa-basi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun yang menerima undangan tersebut larut dalam suasana khidmat pembacaan puisi.
Baca juga: 483 Karya Puisi Warnai Peluncuran Buku Antologi Etnis Nusantara di Aceh
Dia menolak untuk menanggapi. “Tidak ada yang mau mendengarkan upacara, maka membaca puisi menjadi acara yang basi,” ujarnya.
Karena itulah panitia mengundang Nasir tampil di atas panggung membacakan puisi. Jangan mengira ini adalah panggung yang didekorasi secara khusus. Hanya beberapa meja yang dipindahkan untuk memberi ruang.
Sedangkan tumpukan kayu bakar di depan dapur kopi sebelah kiri panggung sebenarnya seperti itu.
Di antara tumpukan kayu bakar di bawah atap jerami dan pengunjung yang lalu lalang memesan kopi, Sekda Nasir berdiri sambil memegang mikrofon.
Ia mengatakan, puisi yang akan dibacanya dibuat dengan mesin AI. “Saya minta AI buatkan puisi tentang pejuang. Makanya dia yang menulis,” kata Nasir.
Nyatanya, cerita Nasir di atas panggung lebih menarik perhatian pengunjung dibandingkan puisi AI sendiri.
Baca juga: Penyair Fikar W. Eda Membawakan Puisi dan Canang ke Panggung Dunia Busan
“Saya takut membaca puisi. Terakhir kali saya membaca puisi pada tahun 1995 di Balai Gading Yogyakarta,” ujarnya.
Nasir menyelesaikan gelar Sarjana di Universitas Widya Mataram dan Magister di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Nasir melanjutkan ceritanya. “Saya bersedia membaca puisi saat itu, karena saya tertarik dengan seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Jadi saya gagal membaca puisi,” ujarnya.

















