TA SAKTImurid Dayah Titeue Meulasah Cut (1970–1971), dibawah asuhan Tgk Muhammad Syekh alias Teungku Lam Meulo, laporan dari Gampong Beureudeup, Kecamatan Indra Jaya, Pidie
Kisah Hasan Husein yang ditulis ulang dan direvisi oleh penulisnya, sungguh menjadi “obor” semangat juang masyarakat Aceh melawan Belanda. Derajat keagungan Hikayat Hasan-Husein setara dan bermartabat dengan Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu.
Kisah Hasan Husein inilah yang menginspirasi semangat juang masyarakat Aceh melawan Marsose Belanda. Masa perjuangan melawan Belanda di pantai barat daya Aceh (Barsela) berlangsung puluhan tahun. Perlawanan yang sangat lama dipimpin oleh Raja Tampoek. Sayangnya, sejauh informasi yang saya miliki, kisah perlawanan Raja Tampoek terhadap Belanda belum tercatat satu buku pun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak kepahlawanan
Di Gampong Dayah, desa yang berbatasan dengan Gampong Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, masih diketahui dua situs bersejarah melawan Belanda. Lokasi SD Gampong Dayah saat ini dulunya merupakan bivak Belanda (pos tentara Marsose Belanda) ketika memantau pergerakan pasukan Raja Tampoek.
Kabar tersebut disampaikan oleh Kuk Jafa yang bernama asli Muhamad Ali, pemilik kios tempat saya selalu membeli sembako.
Di dekat Masjid Dayah terdapat 'bale' yaitu aula tempat masyarakat menunggu sebelum masuk salat Jumat. Di 'bale' inilah pasukan Cut Nyak Dhien pernah singgah dalam perjalanan gerilyanya. Bekas bekas pedang (ditektek ngon peudeueng) masih tersisa dan menjadi kebanggaan masyarakat disana.
Saya mengenal cucu Raja Tampoek, Meureudom Sakeuti, saat mendapat perawatan di Rumoh Drien Guru; Rumoh Gunong milik Abu Tabib Wen. Abu Tabib Wen mendapat sebilah pedang hadiah dari Raja Tampoek.
Meureudom Sakeuti memiliki jimat yang selalu digantungkan di lehernya, di balik pakaiannya. Jimat itu adalah kitab Al-Qur'an yang berukuran kecil, lebih besar dari ibu jari orang dewasa.
Jika dikenakan oleh orang yang “pantas”, jimat dapat bertindak sebagai semacam “sihir” untuk membela diri.
Saya pernah mendengar kisah kebal Pang Jafa, Panglima Perang Raja Tampoek, saat terjadi penyerangan dini hari terhadap sebuah pos militer di Ulee Jalan (kota kecamatan) pada tahun 1950-an. Hanya dengan membentangkan sehelai pakaian di hadapannya, ia tidak terluka sedikitpun oleh peluru senapan mesin tentara Belanda.
Taktik penulis
Bagi pembaca/pendengar saga ini yang mengapresiasi ceritanya, pasti akan “menangis” di beberapa bagian yang memancarkan kasih sayang seorang ibu saat menyekolahkan anaknya berperang.
“Ratapan” ibu ini terdapat dalam kisah istri Saidina Hasan, Fatima Zainub. Ia merasa sangat sedih ketika mendandani putra semata wayangnya untuk berangkat berperang.
Tak kalah “kesedihan” yang ada di benak kita sebagai pembaca dan pendengar hikayat tersebut, ketika ibunda Ali Hanafiyah sangat sedih karena anaknya terjebak dalam gua batu di akhir hikayat.
















