Jayapura, RakyatPos.id – Kilat Kebudayaan Papua 2026 yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Provinsi Papua merupakan upaya penguatan pelestarian budaya asli Papua, serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.
Acara ini digelar di Expo Waena Cultural Park, Kota Jayapura, Papua pada 14-16 Juli 2026. Pembukaannya dilakukan pada Selasa (14/7/2026).
Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Papua Melkias Ohee mengatakan, kegiatan yang mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menjaga Peradaban, Memperkuat Jati Diri” ini merupakan wadah bagi para pelaku seni dan budaya untuk terus berkarya, serta menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perkembangan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Warisan budaya leluhur bukan sekedar peninggalan masa lalu, melainkan jati diri dan jati diri masyarakat Papua yang harus terus dijaga dan dilestarikan,” kata Melkias Ohee.
Menurutnya, melalui kegiatan ini seluruh elemen masyarakat khususnya generasi muda diajak untuk bangga dan berperan aktif dalam melestarikan kearifan lokal.
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum mempererat kebersamaan dan memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat luas, sebagai bagian dari warisan budaya nusantara.
“Kilat Budaya Papua ini kami laksanakan untuk menjaga dan melestarikan budaya asli Papua, khususnya tarian tradisional,” ujarnya.
Dikatakannya, kegiatan tahun ini melibatkan berbagai asosiasi di Kota Jayapura dengan anggota yang berasal dari sejumlah daerah di Papua, seperti Serui, Biak, Waropen, dan Mamberamo Raya serta daerah lainnya.
UPT Museum dan Taman Budaya di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berkomitmen untuk terus melaksanakan program pelestarian budaya suku Papua.
“Kami menghimbau masyarakat Papua untuk tidak meninggalkan adat istiadatnya, khususnya tarian tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas budayanya. Adat dan budaya harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas masyarakat Papua,” kata Melkias Ohee.
Meski pelaksanaan tahun ini didukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN, lanjut Ohee, pihaknya masih mengalami keterbatasan dana terutama untuk biaya akomodasi peserta.
Oleh karena itu, acara tahun depan rencananya akan menghadirkan peserta langsung dari delapan kabupaten dan satu kota di Provinsi Papua, tidak lagi melalui asosiasi di Kota Jayapura.
Rencana ini diharapkan mendapat dukungan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau PBD atau sumber anggaran lainnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kilat Budaya Robert Indakray menjelaskan, Panitia Kilat Budaya Papua 2026 juga bertujuan untuk memberikan ruang bagi para pelaku seni dan budaya khususnya sanggar tari dan seni rupa untuk terus berkarya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat.
“Kesenian tradisional Papua diharapkan terus hidup, berkembang dan semakin dikenal masyarakat,” kata Robert Indakray.
Dikatakannya, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghargai, menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Dikatakannya, Kilat Kebudayaan Papua Tahun 2026 akan diikuti oleh 12 kelompok tari tradisional perwakilan kabupaten dan kota di Provinsi Papua.
Mereka berasal dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Mamberamo Raya.
















