Oleh: Muhajir Juli
Spanyol pertama kali berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 1934 di Italia. Mereka memilih untuk tidak mengikuti Piala Dunia 1930 di Uruguay, karena alasan akomodasi.
Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia telah digelar sebanyak 23 kali. Spanyol ambil bagian di final sebanyak 17 kali. Mereka telah berpartisipasi tanpa henti di 13 Piala Dunia, mulai tahun 1978 hingga sekarang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapa yang tak kenal Spanyol, kekuatan sepakbola di Eropa. Klub-klub La Liga, khususnya Real Madrid dan Barcelona, merupakan klub terbesar di Eropa. Apalagi di era modern, Real Madrid dan Barcelona merupakan dua ikon sepakbola modern dan berkualitas.
Dalam konteks timnas, Spanyol merupakan negara yang mendapat julukan El Pupas (si sial) karena selalu gagal di turnamen besar.
Meski memiliki Real Madrid dan Barcelona sebagai rajanya di tanah Eropa di level klub, timnas Spanyol tak bisa berbuat banyak di turnamen besar. Mereka menjadi spesialis perempat final. Baik di level Piala Dunia maupun Euro, pencapaian tertinggi mereka hanya di babak perempat final.
Dengan prestasinya yang seperti itu, Spanyol dijuluki sebagai raksasa tidur. Punya potensi besar, namun tak mampu dijadikan modal untuk melaju melewati kutukan perempat final.
Mereka hanya pernah menjuarai Piala Eropa 1964 di kandang sendiri dan menjadi runner-up Euro 1984. Itu sudah lama sekali.
Namun mulai tahun 2008, revolusi sepakbola terjadi di Spanyol. Langkah berani diambil Luis Aragones yang ditunjuk sebagai pelatih sejak 2004 pada 2008. Ia mencoret sejumlah nama besar dari daftar skuad.
Salah satu yang dicoret adalah megabintang sekaligus Pangeran Madrid, Raul Gonzalez. Michael Salgado, David Albelda, Joaquin Sanchez, Santiago Canigarez, dll.
Baca juga: Timur Tengah Terbakar: Iran Meminta Houthi Memblokir Rute Laut Merah Jika AS Menyerang Jaringan Listriknya
Luis Aragones merombak skuad secara total. Iker Casillas, Carles Puyol Gerard Pique, Sergio Ramos, Joan Capdevilla, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Xabi Alonso, dll, merupakan skuad hasil reformasi yang dilakukan Aragones.
Reformasi besar-besaran dilakukannya, guna membangunkan raksasa tertidur yang sudah lama enggan bangun karena ego pemain yang terlalu besar akibat kisruh politik yang intens antara Real Madrid versus Barcelona.
Timnas Spanyol harus lebih besar dari pemainnya. Prestasi timnas Spanyol harus lebih besar dari prestasi klub. Timnas menjadi ajang bertemu, berteman, menyusun strategi, memenangkan pertandingan, lalu menjadi juara. Ruang ganti adalah ruang untuk semua pemain, tidak ada kasta, dan semua orang harus setara.
Memang tidak mudah, mendapat perlawanan, namun Aragones tidak goyah. Dia tidak bergerak. Dan hasilnya mulai terlihat. Generasi emas telah lahir.
Menggunakan gaya tiki-taka, skuad Spanyol mulai memainkan tarian flamenco yang indah di lapangan hijau. Kedalaman skuad, kekompakan tim, serta gol-gol besar yang menghilangkan ego sektoral, membuat Spanyol mulai satu persatu mewujudkan targetnya.
















