RakyatPos.id – Seorang pegawai negeri sipil (ASN) yang bertugas di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Nias, Sumatera Utara, bernama Apriaman Lase, ditemukan tewas setelah diduga melompat dari lantai 12 sebuah apartemen di Kota Medan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban diketahui datang ke Medan untuk mengurus pengurusan Surat Keputusan (SK) pengangkatan menjadi ASN. Selama berada di ibu kota Provinsi Sumatera Utara, ia menginap di apartemen.
Hasil pemeriksaan sementara polisi, korban diduga nekad mengakhiri hidupnya setelah mendapat tekanan dan dugaan pemerasan yang dilakukan dua wanita yang disuruhnya lewat aplikasi MiChat.
Kedua wanita tersebut kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis menjelaskan, korban awalnya memesan jasa wanita tersebut melalui aplikasi MiChat dan terhubung dengan seorang wanita berinisial FR.
Korban memesan layanan wanita Open BO dari Michat dan terhubung dengan FR. Kemudian FR datang ke apartemen sekitar pukul 04.20 WIB. Tersangka FR datang dan membawa temannya JS, kata Adrian dalam konferensi pers, Rabu (15/7).
Sesampainya di apartemen, FR dan rekannya, JS, membawa korban ke kamarnya di lantai 12.
Sesampainya di kamar, korban mengaku kaget karena wajah FR berbeda dengan foto profil yang ditampilkan di aplikasi.
Korban kemudian memutuskan tidak menggunakan jasa FR dan memilih berhubungan intim dengan JS.
FR kemudian meminta biaya pembatalan sebesar Rp400 ribu yang langsung ditransfer oleh korban.
Selanjutnya JS mematok tarif sebesar Rp850 ribu untuk layanan yang diberikan.
Korban pun mentransfer uang tersebut ke rekening yang diarahkan oleh FR.
“Jadi tersangka FR meminta biaya pembatalan sebesar Rp 400.000. Korban mentransfer uangnya ke FR. Kemudian tersangka JS mengatakan kalau dia berhubungan badan, biayanya sebesar Rp 850.000. Korban kemudian mentransfer uang tersebut ke nomor rekening yang diberikan FR,” jelas Adrian.
Setelah pembayaran dilakukan, FR keluar kamar dan menunggu di depan pintu, sedangkan JS berada di kamar bersama korban.
Menurut Adrian, usai berhubungan intim, korban merasa tidak puas dan meminta layanan tambahan kepada JS. Setelah kebaktian selesai, JS memanggil FR untuk kembali ke depan ruangan.
Tak lama kemudian, kedua perempuan tersebut diduga meminta tambahan Rp 4,5 juta kepada korban.
Permintaan tersebut ditolak, namun keduanya terus memberikan tekanan kepada korban, termasuk meminta korban menunjukkan saldo rekening di ponselnya.
Dalam kondisi tertekan, korban disebut berjalan menuju balkon sambil mengancam akan melompat jika terus memaksa meminta uang.
Korban juga bilang, 'Kalau minta uang tambahan terus, saya lompat' sambil membuka pintu balkon. Lalu tersangka FR bilang, 'Baiklah, lompat kalau berani', kata Adrian.
Tak lama kemudian, korban diduga justru melompat dari balkon apartemen dan meninggal dunia.
Polisi menyebut kedua tersangka diduga menyaksikan kejadian tersebut. Namun, alih-alih memberikan pertolongan atau melaporkan kepada petugas, keduanya malah meninggalkan lokasi.
“Setelah korban melompat dan meninggal, kedua tersangka keluar kamar dan langsung keluar apartemen,” kata Adrian.
Adrian menambahkan, korban baru beberapa hari berada di Medan untuk mengurus pengurusan surat keputusan sebagai ASN BPN.
Dalam proses tersebut, korban menginap semalam di Apartemen Skyview dan pada Jumat (10/7) memesan jasa wanita melalui aplikasi MiChat.
Jadi korban baru beberapa hari berada di Medan. Dia ingin mendapatkan surat keputusan karena baru diangkat menjadi ASN BPN, pungkas Adrian.
















