MOMEN Saat ini, hubungan diplomatik antara Washington dan Kremlin kembali berada pada titik terendah.
Amerika Serikat (AS) saat ini sedang mengembangkan rencana menyeluruh untuk mencegat kapal tanker minyak yang melarikan diri yang diklaim Rusia berada di bawah yurisdiksinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengutip RakyatPos.id International, salah satu kapal tanker yang dimata-matai awalnya bernama Bella 1.
Kapal ini masuk daftar sanksi AS sejak 2024 karena dituding beroperasi sebagai bagian dari “armada bayangan” yang mengangkut minyak ilegal.
Awalnya, Bella 1 berlayar menuju Venezuela. Namun, bulan lalu kapal tersebut terlihat berbalik arah untuk menghindari upaya penyitaan oleh Penjaga Pantai AS.
“Hingga dua hari lalu, kapal tanker itu diamati di Atlantik Utara, bergerak ke timur laut dekat pantai Inggris,” tulis laporan data kapal open source dari Kpler, sebuah perusahaan intelijen perdagangan, seperti dikutip RakyatPos.id International, Selasa (6/1).
Untuk menghindari pengejaran, awak kapal melakukan aksi provokatif dengan mengecat bendera Rusia di lambung kapal dan mengaku berlayar di bawah perlindungan Kremlin.
Tak lama kemudian, nama kapal tersebut berganti menjadi Marinera dalam daftar resmi kapal Rusia.
Rusia bahkan telah mengajukan permintaan diplomatik resmi kepada AS untuk menghentikan upaya ini.
Status baru sebagai kapal Rusia ini secara hukum membuat proses penyitaan menjadi lebih rumit dan sensitif secara geopolitik.
Persiapan AS untuk menyita kapal tersebut terlihat dari masifnya pergerakan aset militer di wilayah Inggris.
Menurut data pelacakan penerbangan open source, pesawat pengintai P-8 AS yang berbasis di RAF Mildenhall, Inggris, telah memantau posisi Marinera secara intensif.
Dalam 48 jam terakhir, setidaknya 12 pesawat angkut C-17 AS mendarat di pangkalan udara Fairford dan Lakenheath.
Selain itu, aset tempur lainnya seperti dua AC-130 Gunships dan dua V-22 Osprey juga dilaporkan bersiaga di Inggris, didukung oleh tanker pengisian bahan bakar udara KC-135 di atas Atlantik Utara.
Penyitaan ini diperkirakan tidak akan mudah. Sumber internal mengatakan operasi di Atlantik Utara jauh lebih menantang dibandingkan operasi serupa di lepas pantai Venezuela pada Desember lalu karena cuaca buruk dan keterlibatan Rusia.
“Untuk merebut Bella 1 (Marinera) kemungkinan besar membutuhkan Tim Khusus Respon Maritim. Mereka adalah tim berpengalaman dalam menaiki kapal yang pantang menyerah untuk merebut kendali dengan kekerasan,” kata sumber.
Rencana intersepsi ini merupakan bagian dari instruksi Presiden Donald Trump, yang bulan lalu mengumumkan “blokade total” terhadap kapal tanker minyak yang mencoba memasuki atau meninggalkan Venezuela, yang merupakan sekutu Moskow di Amerika Latin.
Meskipun AS berhasil menangkap Nicolas Maduro di Caracas Sabtu pagi,
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan blokade akan tetap ketat.
Langkah ini diambil sebagai daya tawar politik terhadap pemerintah sementara Venezuela.
Sampai berita ini diturunkan, Gedung Putih masih menolak memberikan komentar resmi terkait rencana operasi militer tersebut.
(tps/luc)
















