Pekerjaan… dari pencegahan yang berlebihan hingga kekurangan narasi

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 03:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setahun yang lalu bukan sekedar tahun penjajahan di tengah realitas kolonial yang berkepanjangan, mendekati delapan dekade di mana dunia terbiasa menyaksikan episode-episodenya setiap hari, namun merupakan tahun yang berbeda dalam kedalaman dan konotasinya. Hal ini menyaksikan peralihan perjuangan dari batasan politik tradisional ke inti legitimasi moral dan hukum. Apa yang terjadi pada tahun ini tidak bisa direduksi menjadi penurunan simpati yang bersifat sementara, atau krisis hubungan masyarakat yang berlalu begitu saja, melainkan sebuah jalur erosi kumulatif yang telah mempengaruhi citra pendudukan dan legitimasinya dalam kesadaran global. Terutama di kalangan masyarakat yang sudah lama membentuk inkubator politiknya sendiri.

Akar erosi ini bermula dari paradoks lama dan baru dalam pengalaman kolonial kontemporer, yaitu kekuatan berlebihan yang tidak memiliki cakrawala politik. Selama berpuluh-puluh tahun, pendudukan mengandalkan superioritas tentaranya dan kemampuannya untuk memaksakan fakta, sementara kemampuannya untuk menghasilkan narasi yang meyakinkan tentang masa kini dan masa depan semakin menurun. Tahun ini, kontradiksi ini mencapai puncaknya. Gambaran sehari-hari mengenai pembantaian, kehancuran, dan kelaparan, wacana keamanan absolut, dan pengingkaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional bukan lagi sekedar detail kecil, namun telah menjadi elemen sentral dalam membentuk opini publik global. Perdebatan tidak lagi hanya mengenai keamanan pendudukan. Melainkan, hal ini adalah tentang sifat struktur dan sistem yang menghasilkan tingkat kejahatan dan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan mereproduksinya berulang kali tanpa akuntabilitas.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks ini, kampanye boikot telah muncul sebagai salah satu ciri terpenting dalam transformasi. Boikot bukan lagi sekedar tindakan simbolis atau aktivitas elite, namun sudah menjadi alat tekanan sosial dan institusional. Universitas, serikat pekerja, lembaga kebudayaan, dan perusahaan transnasional kini menghitung biaya hubungan dengan negara pendudukan, tidak hanya dari perspektif untung dan rugi, namun juga dari perspektif reputasi serta risiko hukum dan moral. Transformasi ini berbahaya bagi pendudukan, karena hal ini mengganggu upaya integrasi alami ke dalam sistem global selama lebih dari tujuh dekade, dan mengubah keberadaannya. Di banyak arena, ini merupakan topik pertanyaan atau kontroversi yang terus-menerus.

Boikot ini tidak terjadi secara terpisah dari proses hukum internasional, melainkan berinteraksi dengan proses hukum internasional, dan diskusi mengenai hukum internasional tidak lagi terbatas pada laporan hak asasi manusia, melainkan memasuki inti wacana politik dan media. Karakterisasi pendudukan sebagai situasi hukum dengan kewajiban dan tanggung jawab menjadi lebih nyata. Transformasi ini menghilangkan keuntungan yang selalu dinikmati oleh negara yang menduduki negara tersebut, yang menganggapnya sebagai pengecualian politik, dan ketika pengecualian tersebut menjadi aturan hukum, ruang abu-abu yang selalu memberikan perlindungan pun runtuh.

Dukungan internasional, pada gilirannya, tidak sepenuhnya runtuh, namun berubah bentuk dan isinya. Negara-negara besar masih mempertahankan hubungan mereka dengan negara tersebut, namun mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menyampaikan retorika mereka, dan lebih sadar akan kesenjangan yang semakin besar antara mereka dan rakyatnya. Opini publik di Eropa, Amerika Utara, dan negara-negara Barat pada umumnya tidak lagi memandang pendudukan dengan cara yang sama. Generasi muda khususnya sekarang melihat pendudukan dari sudut pandang hukum dan kolonial, bukan dari sudut pandang keamanan tradisional, dan kesenjangan ini mungkin terjadi. Untuk memperluas, hal ini menjadikan dukungan resmi sebagai beban politik yang semakin besar dan bukannya sebuah kartu kemenangan.

Yang juga membedakan tahun lalu adalah terungkapnya batasan kekuatan militer dalam mengelola citra. Tentara pendudukan mampu memaksakan fakta di lapangan, namun tidak mampu menghentikan kemerosotan legitimasi. Ini adalah persamaan yang berbahaya, karena sejarah kolonial mengajarkan kita bahwa rezim yang kehilangan kemampuan untuk membujuk akan melakukan lebih banyak pemaksaan, yang justru mempercepat krisis yang mereka hadapi, bukannya menyelesaikannya. Pendudukan saat ini berada di persimpangan jalan ini. Kekuatan militer yang berlebihan versus isolasi moral yang perlahan tapi pasti meluas.

Masa depan menunjukkan bahwa jalur ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat, selama tidak adanya cakrawala politik yang nyata, atau hukum internasional terus diperlakukan sebagai alat yang selektif, dan akibatnya erosi akan semakin dalam, dan boikot kemungkinan akan meluas hingga berdampak pada kelompok dan masyarakat lain, dan pekerjaan hukum kemungkinan akan menjadi lebih terorganisir dan terkait dengan politik dan ekonomi. Di sisi lain, pendudukan tampaknya tidak mampu melakukan perubahan radikal dalam kebijakannya, namun cenderung mengelola krisis tanpa menyelesaikannya, sehingga akan mempunyai konsekuensi yang lebih parah.

Dalam situasi ini, sebuah peluang terlihat jelas bagi tindakan Palestina, Arab, dan internasional, dengan membangun krisis legitimasi dengan wacana yang menghubungkan isu Palestina dengan nilai-nilai universal yang jelas dan disepakati, menempuh jalur hukum yang panjang, dan memperluas jaringan solidaritas lintas batas, karena tahun ini, meskipun bukan tahun jatuhnya penjajahan, namun merupakan tahun runtuhnya citra kohesif mereka, dan berdasarkan pengalaman sejarah, jatuhnya citra tersebut sering kali mendahului jatuhnya kendali oleh sebuah negara. waktu, mungkin tidak singkat, tetapi tidak bisa dihindari.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Iran Pindahkan Ribuan Sentrifugal Nuklir ke Gunung Beliung di Kedalaman 100 Meter
Terungkap! Begitulah fantastisnya kehormatan Dude Harlino selama menjadi Brand Ambassador PT DSI
Pesawat yang Diduga Milik AS Dikabarkan Jatuh di Pulau Qeshm, Iran
AS Kembalikan Artefak Papua yang Dicuri ke Indonesia
KPK Ungkap Menteri Kehutanan Raja Juli Bertemu Bupati Kuansing Lebih dari Sekali
Pemerintah Genjot Pembangunan 37.373 Huntap di Aceh, Kemajuannya Hanya 4,9 Persen
Febrie Adriansyah Tak Terpantau Jurnalis Saat Penuhi Panggilan Jaksa Agung, Lewat Pintu Mana?
FISIP Unimal dan Universitas Dharmawangsa Siapkan MoA, Kerjasama Dosen dan Pertukaran Mahasiswa

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 04:23 WIB

Iran Pindahkan Ribuan Sentrifugal Nuklir ke Gunung Beliung di Kedalaman 100 Meter

Sabtu, 25 Juli 2026 - 04:10 WIB

Terungkap! Begitulah fantastisnya kehormatan Dude Harlino selama menjadi Brand Ambassador PT DSI

Sabtu, 25 Juli 2026 - 03:55 WIB

Pesawat yang Diduga Milik AS Dikabarkan Jatuh di Pulau Qeshm, Iran

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:55 WIB

KPK Ungkap Menteri Kehutanan Raja Juli Bertemu Bupati Kuansing Lebih dari Sekali

Sabtu, 25 Juli 2026 - 02:37 WIB

Pemerintah Genjot Pembangunan 37.373 Huntap di Aceh, Kemajuannya Hanya 4,9 Persen

Berita Terbaru