KSAD Maruli Geram Disebut Jenderal Bolt: Otak Mereka Sama!

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 19:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menanggapi perhatian masyarakat terkait anggaran pembangunan sumur bor senilai Rp 150 juta di wilayah terdampak bencana. Sebelumnya, netizen ramai mengkritik proyek tersebut di media dan menyebutnya sia-sia.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di berbagai platform media sosial, warganet membandingkan biaya pengeboran sumur yang dilakukan TNI AD dengan sumur milik warga di sejumlah daerah yang disebut-sebut hanya menelan biaya puluhan juta rupiah. Kritik tidak hanya menyasar besaran anggaran, tapi juga menuntut transparansi dan penggunaan dana negara secara efektif.

“Sumur bor di desa kami biayanya tidak sampai Rp 50 juta,” tulis salah satu warganet. Kritikus lainnya menyebut anggaran ratusan juta rupiah rawan mark up dan meminta pemerintah mengungkap rincian biaya proyek kepada publik.

Menanggapi kritik tersebut, Maruli meminta masyarakat tidak menilai proyek kemanusiaan hanya dengan membandingkan angka, tanpa memahami kondisi di lapangan. “Mari kita bersinergi, jangan merasa semua terus-terusan mengoreksi. Kritik itu baik sehingga kita juga bisa mengevaluasi, tapi jangan terkesan kita banyak melakukan kesalahan,” kata Maruli.

KSAD mengaku kerap mendapat julukan sinis “Jenderal Bolt” karena gaya kepemimpinannya yang melibatkan keterlibatan langsung dalam urusan teknis di lapangan. Julukan tersebut tersebar di media sosial setelah Maruli mengungkap dugaan sabotase jembatan darurat Bailey di Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Dia menuduh seseorang menyabotase jembatan bailey dengan melepas bautnya. “Jenderal Bolt bilang, saya yang rencanakan satuannya pindah ke sini, naik kapal, pindah ke sana, pindahkan ke titik, kita pasang hingga akhirnya bisa digunakan masyarakat,” kata jenderal bintang empat ini.

Penyebutan Maruli yang disampaikan Jenderal Bolt ramai di media sosial, seperti TikTok dan lainnya. Ia pun melampiaskan kekesalannya kepada orang-orang yang dianggapnya usil. Yang otaknya sama, orang itu.. biarkan saja, kata Maruli saat jumpa pers di Dermaga Satuan Angkutan Air (Satangair) TNI AD, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).

Maruli menyinggung pihak-pihak yang terus mengkritik. Yang penting saya yakin apa yang kita lakukan di TNI akan dirasakan langsung oleh masyarakat yang terkena musibah, dibandingkan yang ngomong, otaknya kacau semua, kata Maruli.

Maruli kemudian menjelaskan mengenai sumur bor yang dibangun TNI AD. Dikatakannya, TNI membangun sumur dengan kedalaman 100 hingga 200 meter untuk menjangkau sumber air yang stabil dan lestari, terutama di daerah bencana dengan kondisi tanah yang sulit. “Kalau mata airnya tidak kita temukan, pasti airnya habis,” kata Maruli.

Maruli menegaskan, proyek ini tidak bisa diibaratkan seperti sumur rumah tangga yang hanya melayani satu keluarga. “Rumah saya di Bandung mungkin tidak sampai Rp 10 juta untuk air sumur. Itu hanya untuk satu keluarga. Ini untuk kepentingan satu desa,” ujarnya.

Ia memastikan proses pembangunannya dilakukan dengan keterlibatan langsung para prajurit, mulai dari perencanaan, pengadaan material, hingga pemasangan di lokasi. “Semua saya rencanakan. Saya beli ARMCO, diangkut, digeser, dipasang sampai selesai. Anggota jungkir balik di lapangan,” kata Maruli.

Sementara itu, para pengamat kebijakan publik menilai kritik publik tidak bisa begitu saja dianggap sebagai kesalahpahaman publik. Transparansi dan komunikasi anggaran dinilai menjadi kunci meredam polemik.

Pengamat kebijakan publik Usman Lamreung menilai pemerintah dan lembaga negara perlu menjelaskan secara detail struktur biaya proyek bantuan bencana, terutama yang menggunakan dana besar. “Ketika angka Rp 150 juta itu dilempar ke publik tanpa penjelasan teknis yang memadai, maka wajar jika masyarakat curiga. Ini bukan isu anti TNI, tapi soal akuntabilitas anggaran,” kata Usman.

Menurut dia, perbedaan biaya pengeboran sumur bisa diterima jika dibarengi dengan data teknis terbuka, seperti kedalaman pengeboran, jenis pipa, biaya logistik, dan risiko medan di lokasi bencana. “Tidak cukup negara mengatakan ini untuk kepentingan satu desa. Masyarakat berhak tahu kenapa biayanya begitu besar, apalagi ini uang rakyat,” ujarnya.

Usman juga mengingatkan, kritik warganet jangan dilihat sekadar sebagai serangan pribadi terhadap pejabat negara. “Di era media sosial, kritik menjadi alarm masyarakat. Jika dijawab dengan data dan transparansi, polemik sebenarnya bisa berhenti,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026), Maruli bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, biaya pengeboran sumur sedalam 100-200 meter berkisar Rp 100 juta hingga Rp 150 juta, tergantung kondisi geografis dan tingkat kesulitan di lapangan.()


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Kalau Malu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Mundur!
Santiago Ponzinibbio mengambil pelajaran dari Piala Dunia Argentina jelang UFC Abu Dhabi
Hubungan Tidak Sehat Bukan Hanya Soal Selingkuh, Kenali 15 Tanda yang Harus Diwaspadai
Tanpa rompi dan borgol saat ditahan, DPP IMM meminta Kejagung tidak memberikan keistimewaan khusus kepada Febrie
Jajak pendapat Fox News menunjukkan dukungan terhadap Trump rendah ketika Partai Demokrat memimpin pemungutan suara di DPR
UNIKI Bireuen Lepas Kontingen Peksimid Aceh
Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah
Unit Militer Rusia Terbakar di Engels, Drone Menyerang Gudang Wildberry Yekaterinburg

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:33 WIB

Kalau Malu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Mundur!

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:19 WIB

Santiago Ponzinibbio mengambil pelajaran dari Piala Dunia Argentina jelang UFC Abu Dhabi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:08 WIB

Hubungan Tidak Sehat Bukan Hanya Soal Selingkuh, Kenali 15 Tanda yang Harus Diwaspadai

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:31 WIB

Tanpa rompi dan borgol saat ditahan, DPP IMM meminta Kejagung tidak memberikan keistimewaan khusus kepada Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:12 WIB

Jajak pendapat Fox News menunjukkan dukungan terhadap Trump rendah ketika Partai Demokrat memimpin pemungutan suara di DPR

Berita Terbaru

HEADLINE

Kalau Malu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Mundur!

Sabtu, 25 Jul 2026 - 22:33 WIB