RakyatPos.id -Amerika Serikat (AS) menyita dua kapal tanker minyak yang dikenakan sanksi dan diduga terkait dengan Venezuela, setelah melakukan pengejaran yang lama di kawasan Atlantik Utara dan Karibia.
Dikutip dari 9News, Kamis 8 Januari 2026, salah satu kapal bernama Bella 1 sebelumnya mendapat sanksi AS pada tahun 2024 karena beroperasi dalam apa yang disebut “armada bayangan” yang mengangkut minyak secara ilegal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komando Eropa AS mengatakan pada hari Rabu bahwa kapal tersebut disita karena melanggar sanksi AS, setelah kapal tersebut berusaha menghindari blokade Amerika dan dikejar ke perairan antara Skotlandia dan Islandia.
Kapal itu berganti nama menjadi Marinera dan mengibarkan bendera Rusia. Namun, AS tidak mengakui klaim tersebut dan menganggap kapal tersebut tidak memiliki kewarganegaraan.
Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Rusia telah mengerahkan aset angkatan laut dan kapal selam untuk melindungi Bella 1, meski tidak jelas seberapa dekat mereka saat penyitaan dilakukan. Berdasarkan data pelacakan MarineTraffic, kapal tersebut disita sekitar 305 kilometer selatan Islandia.
Selain itu, AS juga menyita satu lagi kapal tanker di kawasan Karibia yang dianggap tidak memiliki kewarganegaraan dan diduga melakukan aktivitas ilegal.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem membenarkan langkah tegas tersebut melalui media sosial. “Penjahat dunia telah diperingatkan. Anda bisa lari, tapi Anda tidak bisa bersembunyi,” katanya.
Gedung Putih menegaskan, Presiden Donald Trump tidak takut, meski tindakan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan dengan Rusia dan China.
“Dia akan menegakkan kebijakan yang terbaik bagi Amerika Serikat, termasuk memberlakukan embargo terhadap semua armada kapal ilegal yang mengangkut minyak secara ilegal,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
AS diketahui sudah mengikuti Bella 1 sejak kapal tersebut berada di dekat Venezuela. Dalam operasi tersebut, AS mengerahkan pesawat pengintai P-8, kapal penjaga pantai, serta dukungan militer dari Inggris, sebelum akhirnya kapal tersebut disita di Atlantik Utara.
















