RakyatPos.id – Setelah menjalani dua putaran pemilihan, Masoud Pezeshkian terpilih sebagai Presiden Iran, menggantikan Ebrahim Raisi, yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terpilihnya Masoud Pezeshkian sebagai Presiden Iran juga diharapkan dapat memperkuat hubungan dengan Rusia dan China.
Ini karena Masoud Pezeshkian adalah pendukung kuat hubungan antara Iran dengan Rusia dan China.
Bahkan Vladimir Putin dan Xi Jinping disebut-sebut sebagai pemimpin negara yang langsung mengucapkan selamat kepada Masoud Pezeshkian atas terpilihnya dia.
Namun hingga kini, Amerika dan beberapa negara Eropa belum menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden terpilih Iran.
Dalam pidato pertamanya, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa ia berjanji akan melayani seluruh rakyat Iran.
Pada hari Sabtu, 6 Juli, Pezeshkian mengatakan bahwa ia akan membuka babak baru bagi negaranya.
“Kita menghadapi ujian yang sangat berat, ujian yang penuh dengan kesulitan dan tantangan, hanya untuk bisa memberikan kehidupan yang sejahtera bagi rakyat kita,” katanya saat menyampaikan pidato singkat di makam mendiang Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Pezeshkian juga memuji tingginya jumlah pemilih dalam pemilu hari Jumat, dan berjanji akan mendengarkan suara rakyat Iran dan memenuhi semua janji yang dibuatnya.
Presiden baru Iran memenangkan hampir 16,4 juta dari lebih dari 30 juta suara yang diberikan, mengungguli Jalili yang menerima sekitar 13,5 juta, menurut penghitungan resmi.
Jumlah pemilih pada putaran kedua pemungutan suara adalah 49,8 persen dan Pezeshkian adalah satu-satunya kandidat moderat dari empat kandidat yang berjanji untuk membuka Iran kepada dunia.
Dalam pemilihan minggu lalu, Pezeshkian memenangkan sekitar 42,5 persen suara dan Jalili sekitar 38,7 persen.
Meskipun terpilih, dilaporkan bahwa sekitar 50 persen warga Iran tidak memilih karena sebagian orang tidak percaya bahwa pemilu akan membawa perubahan, apakah pihak konservatif atau reformis yang menang.
Pezeshkian diperkirakan akan mulai bertugas dalam waktu 30 hari, karena saat ini ia masih menjadi anggota parlemen dari Tabriz.
Presiden terpilih kesembilan negara itu kemudian harus secara resmi dikonfirmasi dalam sebuah upacara oleh pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kemudian dilantik di parlemen.
Pezeshkian berulang kali memuji Khamenei dalam pidatonya dan mengatakan bahwa dia bukan hanya presiden bagi kaum reformis, tetapi juga bagi setiap orang Iran yang tidak memilihnya.
Hal ini sangat penting, karena Iran saat ini adalah negara yang terpecah secara sosial dan kerapuhan itu menjadi perhatian besar bagi para pemimpin politik.
Para pengamat mengatakan Pezeshkian kemungkinan akan mendorong kebijakan luar negeri yang pragmatis.
Kedua kandidat presiden telah berjanji untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lesu, yang telah terganggu oleh salah urus dan penerapan kembali sanksi sejak 2018 setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir.
RakyatPos.ID Network
















