Menelusuri Jejak Sunyi Desa Kuala Keupeng yang Ditelan Hutan

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Dua kilometer terakhir menuju Kuala Keupeng Lama harus ditempuh menggunakan sepeda motor trail. Jarak tersebut dihitung dari Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Perjalanan ini tidak mudah; jalan tanah di depan dipenuhi lumpur, lubang, dan genangan air.

Semak tumbuh liar di kiri dan kanan jalan, bahkan ada yang menghalangi jalan sehingga terkadang pengendara harus merunduk menghindari dahan yang melintasi jalan. Semakin jauh seseorang masuk ke dalam, semakin sedikit tanda-tanda kehidupan yang terlihat.

Rumah-rumah warga yang sebelumnya berdiri di kawasan ini sudah tidak terlihat lagi. Bekas pekarangan dan lokasi rumah kini berubah menjadi semak dan pepohonan, menghapus jejak bahwa tempat ini dulunya merupakan perkampungan padat penduduk.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun jejak desa tersebut masih ada. Di seberang selokan sebelah kanan jalan terlihat sebuah bangunan tua yang nyaris tak terlihat karena tertutup pohon beringin besar. Akar beringin menjerat konstruksi beton yang dikenal warga sebagai bekas Pos Kesehatan Desa Kuala Keupeng.

Baca juga: Dibalik Kisah Hilangnya Desa Uang Kuala Keupeng dari Kerajaan Tualang hingga Pusat Perdagangan

Kini, bangunan tersebut hanya tinggal sebagian dindingnya dan konstruksinya mulai rusak. Menurut warga, pada masa konflik, bangunan tersebut menyimpan cerita kelam karena digunakan untuk menyiksa dan membunuh orang-orang yang diduga terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Tak jauh dari situ berdiri gedung SDN 1 Kuala Keupeng. Sekolah ini dibangun pemerintah—pada masa Merah Sakti menjabat Wali Kota Subulussalam—setelah warga Kuala Keupeng mengungsi.

Pembangunan tersebut dilakukan sebagai persiapan saat warga kembali ke kampung halaman, seiring dengan rencana pemerintah yang akan membangun rumah bagi warga. Sayangnya, rumah-rumah tersebut tidak pernah dibangun, dan sekolah tersebut tidak pernah digunakan.

Tidak pernah ada suara guru mengajar atau anak-anak belajar di kelasnya. Kini, bagian dalam bangunan dipenuhi lumpur kering, dikelilingi vegetasi yang tumbuh subur, dan sejumlah bagian bangunan mulai runtuh seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Subulussalam 24 Agustus: Mayoritas wilayah tertutup udara berkabut

Dari area sekolah, jalur menuju Masjid Al-Misbah harus ditempuh dengan menerobos hutan dan semak belukar. Karena jalurnya sudah tidak terlihat jelas lagi, kendaraan terpaksa ditinggalkan dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati vegetasi yang semakin lebat. Di ujung semak belukar, akhirnya muncul bangunan Masjid Al-Misbah di dekat Sungai Lae Soraya.

Masjid ini masih berdiri dengan dinding beton yang cukup kokoh, dengan tetap mempertahankan dua kubah dan empat tiang berbentuk persegi panjang. Namun, kerusakan terlihat dimana-mana; Pintu utama sudah tidak bisa digunakan sehingga harus masuk melalui jendela.

Kaca nako sebagian besar pecah, lantai keramik putih tertutup lumpur tebal, atap seng banyak berlubang, dan loteng kayu sebagian besar sudah lapuk dan dikelilingi semak-semak.

Ada misteri yang menyelimuti tempat ini. Di salah satu pintu masjid yang menghadap ke sungai, warga mengaku menemukan mayat berupa tulang belulang tak dikenal yang tidak diketahui asal usulnya. Di sudut lain, tepatnya di salah satu dinding masjid, terdapat tulisan menggunakan arang hitam yang berbunyi: “Pergerakan Masyarakat Kuala Keupeng Tahun 2002.” Tulisan sederhana ini menjadi penanda pasti kapan desa ini mulai ditinggalkan.

Masjid Al-Misbah berdiri tak jauh dari Sungai Lae Soraya, sumber kehidupan yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kuala Keupeng. Warga mengenang masa ketika kapal kayu berlabuh di sungai ini untuk membawa dan mengumpulkan barang dagangan. Saat itu Kuala Keupeng merupakan pemukiman padat dan pusat perdagangan di pedalaman, dengan beras sebagai salah satu komoditas utama.

Namun denyut kehidupan tersebut terhenti ketika konflik Aceh memaksa masyarakat meninggalkan kampung halamannya dalam eksodus yang berlangsung pada tahun 2002 hingga 2003.

Setelah semua penghuninya pergi, pemukiman yang tadinya ramai perlahan-lahan kehilangan penghuninya, menyisakan sisa bangunan yang harus berhadapan dengan waktu dan alam.


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Siaran langsung uji coba Lindsay Clancy hari ke-19, pembaruan langsung – NBC Boston
Anggota DPRK Fitra Akhyar Ajak Warga Aceh Jaya Hidupkan Kembali Semangat Kebersamaan di Momentum Maulid Nabi
Pemerintah Tiongkok Mendanai 14 Mahasiswa Ni-Vanuatu Untuk Universitas Shanghai
DKPP menolak aduannya, Bonatua mengambil jalur KIP terkait ijazah Jokowi
Generasi Perdamaian Aceh & Tugas Menanam Perdamaian Sebelum Konflik Menjadi Warisan
Masyarakat Kecamatan Mare Menghadapi Berbagai Permasalahan Kebutuhan Pokok
Pemangkas pohon Minnesota dituduh membunuh rekan kerjanya saat sedang bermain-main dengan peralatan
Tweet yang dihapus menunjukkan dukungan penuh semangat Natalie Harp untuk Trump pada 6 Januari

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:33 WIB

Siaran langsung uji coba Lindsay Clancy hari ke-19, pembaruan langsung – NBC Boston

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:32 WIB

Anggota DPRK Fitra Akhyar Ajak Warga Aceh Jaya Hidupkan Kembali Semangat Kebersamaan di Momentum Maulid Nabi

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:16 WIB

Pemerintah Tiongkok Mendanai 14 Mahasiswa Ni-Vanuatu Untuk Universitas Shanghai

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:52 WIB

DKPP menolak aduannya, Bonatua mengambil jalur KIP terkait ijazah Jokowi

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Generasi Perdamaian Aceh & Tugas Menanam Perdamaian Sebelum Konflik Menjadi Warisan

Berita Terbaru

Al Jazeera - LIVE