Ringkasan Berita:
Mereka menuntut penyelidikan independen dan reformasi tata kelola FIFA, termasuk jaminan bahwa kompetisi tidak akan dibuka untuk kepemilikan swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tekanan terhadap Infantino semakin meningkat menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027, karena ia menargetkan masa jabatan keempat hingga tahun 2031.
RakyatPos.id – Enam asosiasi sepak bola Nordik—Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Kepulauan Faroe—mengatakan bahwa mereka kehilangan kepercayaan pada Presiden FIFA Gianni Infantino.
Mereka juga mendukung tuntutan agar Infantino mengundurkan diri.
Dalam pernyataan bersama usai pertemuan di Helsinki, Minggu (23/8/2026), asosiasi menyatakan keprihatinannya terhadap tata kelola FIFA dan proses pengambilan keputusan di tingkat tertinggi.
Mereka mendukung seruan UEFA, AFC dan CONCACAF untuk perubahan kepemimpinan FIFA dan meminta penyelidikan independen terhadap tata kelola organisasi sepak bola dunia tersebut.
Salah satu pemicu utama krisis kepercayaan adalah rencana kontroversial Infantino yang menjual sebagian kepemilikan aktivitas komersial FIFA, termasuk hak terkait Piala Dunia, kepada investor swasta.
Rencana tersebut kemudian dibatalkan setelah mendapat tentangan luas dari berbagai pihak.
Negara-negara Nordik menuntut FIFA memberikan jaminan yang mengikat bahwa tata kelola organisasi dan kompetisinya tidak akan dibuka kembali untuk kepemilikan swasta.
Mereka juga meminta evaluasi independen dan menyeluruh terhadap sistem tata kelola FIFA untuk memastikan transparansi, akuntabilitas dan pemantauan yang memadai serta keseimbangan mekanisme kekuasaan.
Tekanan terhadap Infantino semakin meningkat menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027.
Infantino diketahui sedang mencari masa jabatan keempat, yang akan membuatnya tetap memimpin FIFA hingga 2031 jika terpilih kembali.
Asosiasi Sepak Bola Denmark sebelumnya telah menarik dukungan terhadap pencalonan Infantino dan berkomitmen mencari kandidat alternatif untuk pemilu mendatang.
Krisis tersebut menunjukkan semakin lebarnya perbedaan pandangan di dunia sepak bola mengenai kepemimpinan Infantino, terutama mengenai transparansi, tata kelola, dan keterlibatan kepentingan komersial dalam penyelenggaraan kompetisi FIFA.




















