Ringkasan Berita:
- DEM Aceh menyelenggarakan Seminar Nasional membahas pengembangan Blok Andaman dengan menekankan pentingnya kepastian investasi dan akselerasi industri hilir gas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Forum tersebut menghasilkan lima rekomendasi strategis, antara lain pengembangan KEK Arun, penyusunan rencana induk industrialisasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.
- DEM Aceh berharap Blok Andaman segera dikembangkan untuk memberikan nilai tambah bagi Aceh, memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Laporan Jurnalis Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
RakyatPos.id, LHOKSUKON – Dewan Mahasiswa Energi (DEM) Aceh menyelenggarakan Seminar Nasional Peugah Haba Energi dengan tema “Membangun Pemahaman di Tengah Polemik Pembangunan Blok Andaman” sebagai upaya membangun kesamaan pandangan terkait pengembangan salah satu proyek migas terbesar di Indonesia tersebut.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Waroeng Aceh Garuda, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026) ini diikuti lebih dari 170 peserta dari berbagai kalangan.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, yaitu:
- Kepala SKK Migas Dr Ir Djoko Siswanto, MBA
- Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES) Dr Ir Surya Darma, MBA
- Pendiri DEM Aceh dan aktivis energi Didi Supriadi, ST
Acara dibuka oleh Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda dan dimoderatori oleh Ketua Umum Masyarakat Ketahanan Energi Indonesia (MKEI), Awaf Wirajaya, ST, MHan.
Baca juga: Pemerintah Aceh Ungkap Sejumlah Perusahaan Tertarik Hilirisasi Migas dari Blok Andaman di KEK Arun
Forum ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan regulator, akademisi, praktisi, dan generasi muda untuk membahas arah pengembangan Blok Andaman.
Terutama mengenai Plan of Development (PoD) Tahap I yang belakangan mendapat perhatian publik.
Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda menegaskan, pihaknya mendukung pengembangan Blok Andaman sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Namun, menurutnya, proyek tersebut harus mampu memberikan manfaat nyata bagi Aceh melalui pengembangan industri hilir berbasis gas, tanpa menghambat proses investasi yang sedang berjalan.
Ia menjelaskan, perdebatan mengenai skema pengembangan, apakah menggunakan konsep Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), Onshore Processing Facility (OPF), atau hybrid, harus didasarkan pada kajian teknis, karakteristik lapangan migas laut dalam, serta aspek keekonomian proyek.
Faizar menilai kepastian Rencana Pembangunan perlu segera diwujudkan agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Di sisi lain, peluang pengembangan hilir pada tahap selanjutnya juga harus dipersiapkan agar potensi gas Andaman dapat menimbulkan multiplier effect terhadap perekonomian Aceh.
“Yang terpenting proses penyelesaian PoD tidak berlarut-larut sehingga investasi dapat segera terealisasi dan kepercayaan investor tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada Kepala SKK Migas yang tetap mengikuti seminar online di tengah agenda resminya di Pekanbaru.

















