SURABAYA ( LENTERA ) – Perbedaan cara membesarkan anak antar generasi seringkali menjadi pemicu konflik keluarga. Psikolog mengingatkan, pengalaman kakek dan nenek tetap bisa menjadi masukan, namun keputusan pengasuhan harus mengutamakan kebutuhan dan keselamatan anak.
Perbedaan pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang melibatkan beberapa generasi dalam membesarkan anak. Mulai dari aturan makan, kebiasaan sehari-hari, hingga cara mendisiplinkan anak, perbedaan pandangan bisa muncul ketika pengalaman masa lalu bertemu dengan anjuran pengasuhan yang lebih baru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof Dr Rose Mini Agoes Salim mengingatkan, tanggung jawab utama membesarkan anak tetap berada di tangan orang tua. Kakek dan nenek bisa berbagi pengalaman, namun pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan pengetahuan anak.
“Sekali lagi saya katakan, orang tualah yang bertanggung jawab terhadap anak. Jadi orang tualah yang harus membuat aturan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” kata Rose Mini.
Menurutnya, pola asuh orang tua tidak boleh diterapkan hanya karena sudah menjadi kebiasaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Setiap anak mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga keputusan pengasuhan perlu mengacu pada informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Komunikasi adalah Kuncinya
Perbedaan pandangan bukan berarti orang tua harus mengabaikan pengalaman kakek dan nenek. Sebaliknya, keluarga perlu mendiskusikan aturan pengasuhan anak secara terbuka agar semua orang yang terlibat memahami batasan dan tanggung jawabnya masing-masing.
Rose Mini menyarankan orang tua menjelaskan alasan di balik keputusannya dengan tenang, terutama jika mereka berbeda pendapat dengan orang tua atau mertua.
“Jika kita berbeda pendapat dengan kakek dan nenek kita, berikan alasan yang jelas agar dapat diterima oleh orang tua atau kakek nenek kita,” ujarnya.
Pendekatan ini membantu menghindari konflik yang hanya berpusat pada siapa yang benar. Orang tua dapat menjelaskan bahwa aturan tertentu dibuat berdasarkan kondisi anak, saran ahli, atau pertimbangan keselamatan, bukan semata-mata untuk membatasi peran kakek dan nenek.
Keluarga juga perlu menyepakati aturan yang berlaku secara konsisten, terutama jika anak diasuh secara bergantian oleh orang tua dan kakek dan nenek. Kesepakatan ini mencakup kebiasaan makan, waktu tidur, pemberian makanan tambahan, penggunaan gawai, dan cara menyikapi perilaku anak.
Libatkan Para Ahli jika Diperlukan
Untuk masalah terkait kesehatan dan tumbuh kembang, Rose Mini menyarankan agar keluarga berkonsultasi dengan dokter anak. Dengan begitu, kakek dan nenek bisa mendapatkan penjelasan langsung mengenai kebutuhan anaknya, dibandingkan hanya mengandalkan pengalaman pribadi atau informasi dari lingkungan sekitar.
Salah satu persoalan yang kerap menjadi pemicu perbedaan adalah pemberian makanan pada bayi dan anak. Anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan perlu mengetahui jenis makanan apa yang sesuai dengan usia anak, cara pengolahan yang aman, dan pantangan terkait alergi atau kondisi kesehatan tertentu.
Misalnya, makanan yang dianggap biasa dikonsumsi anak-anak generasi sebelumnya belum tentu sesuai dengan kebutuhan bayi masa kini. Oleh karena itu, orang tua dan anggota keluarga yang membantu mengasuh anak perlu mengikuti anjuran kesehatan yang relevan.
Penting juga untuk membedakan pengalaman mengasuh anak dari bukti medis. Kebiasaan yang sebelumnya dianggap aman belum tentu cocok untuk semua anak, apalagi jika menimbulkan risiko tersedak, infeksi, alergi, atau gangguan kesehatan lainnya.
Keamanan Anak Primer
Isu perbedaan pola asuh orang tua kembali menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan tentang seorang bayi di Surabaya yang dikabarkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Kejadian ini menyoroti pentingnya pemahaman keamanan pangan dan komunikasi di antara anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan.
Namun penyebab kematian kasus ini belum bisa dipastikan hanya berdasarkan laporan awal. Tuduhan yang diungkapkan dalam laporan tersebut perlu dibedakan dengan hasil pemeriksaan kesehatan atau kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian.
Secara umum pemberian makanan pada bayi perlu mengikuti anjuran kesehatan sesuai usia dan kondisi anak. Telur mentah atau setengah matang berisiko membawa bakteri penyebab penyakit, termasuk Salmonella. Telur harus dimasak dengan matang untuk mengurangi risiko infeksi makanan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa aturan pengasuhan anak perlu dikomunikasikan dengan jelas kepada siapa pun yang mengasuh anak. Informasi mengenai makanan yang boleh diberikan, alergi, obat-obatan, dan tindakan yang harus dihindari harus diketahui oleh semua pengasuh.
Keterlibatan kakek nenek dapat menjadi dukungan penting bagi keluarga. Pengalaman, perhatian, dan kedekatan emosional mereka dapat membantu anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Namun dukungan tersebut perlu dibarengi dengan perjanjian penitipan anak yang mengutamakan kebutuhan dan keselamatan anak. (jauh, is/dya)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency



















