RakyatPos.id – Pembelajaran Al-Qur’an dengan tajwid yang benar merupakan fondasi penting dalam pendidikan Islam. Baru-baru ini, sebuah tayangan video dari kanal YouTube Hajar Akbar Al-Bulukumba menampilkan momen inspiratif yang memperlihatkan ketangkasan seorang santri bernama Muh Bilal dalam melafalkan dan membedah hukum-hukum tajwid. Muh Bilal, yang merupakan santri yatim dan miskin dari Ashabul Jannah, berhasil melampaui ujian Qiro’atuttajwidil Qur’an menggunakan Metode Akbariyah dengan sangat meyakinkan.
Dalam ujian tersebut, Bilal diminta untuk membaca salah satu ayat suci Al-Qur’an dan menguraikan makhraj huruf, hukum tajwid, hingga hukum ghoribul qur’an secara detail. Ayat yang diujikan adalah penggalan ayat dari Surah Al-Kafirun, yaitu “wala anaidum ma abadum” (ولا أنا عابد ما عبدتم). Dengan tenang dan fasih, Bilal membedah satu demi satu huruf beserta hukum bacaannya.
Bilal memulai penjelasannya dari huruf wau sebagai huruf bibir, diikuti huruf lam yang merupakan huruf ujung lidah yang bertemu dengan langit-langit bagian depan. Ia menjelaskan bahwa huruf lam berharakat fathah yang diikuti alif seharusnya berhukum mad thabi’i, namun karena setelahnya terdapat huruf hamzah pada kata berbeda, hukumnya berubah menjadi mad jaiz munfasil. Bilal juga menambahkan detail bahwa panjang bacaan tersebut bisa berkisar antara dua hingga empat harakat, di mana di Indonesia dianjurkan menggunakan empat harakat mengikuti jalur Asy-Syathibiyyah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak berhenti di situ, Bilal menunjukkan pemahaman mendalam tentang konsep ghoribul qur’an saat menjelaskan kata “ana” . Ia memaparkan bahwa huruf nun keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan langit-langit bagian tengah. Meskipun diikuti alif, di atas alif terdapat tanda sifir mustatil. Hal ini berarti jika bacaan dilanjutkan (washal), hukum mad thabi’i tidak dianggap atau tidak dibaca panjang, namun jika berhenti (waqaf), hukum mad thabi’i tetap berlaku.
Penjelasan Bilal berlanjut pada huruf ain yang keluar dari tenggorokan bagian tengah dengan hukum mad thabi’i sepanjang dua harakat, lalu huruf ba sebagai huruf bibir, dan huruf dal yang keluar dari ujung lidah bertemu pangkal gigi seri bagian atas. Ketika dal berharakat tanwin bertemu dengan huruf mim, Bilal dengan tepat menyebutkan hukum bacaannya adalah idgham bighunnah, yang dibaca melebur dengan dengung melalui rongga hidung.
Salah satu bagian paling mengesankan adalah ketika Bilal menjelaskan kata “abadum”. Ia menerangkan adanya hukum idgham mutajanisain karena bertemunya huruf dal sukun dengan huruf ta yang hidup, di mana kedua huruf tersebut memiliki makhraj yang sama. Ketika penguji menanyakan bagaimana cara membaca huruf dal tersebut jika tidak terjadi idgham mutajanisain, Bilal dengan sigap menjawab bahwa huruf dal tersebut harus dibaca qalqalah kubra saat waqaf dan qalqalah sugra saat washal dalam kondisi sukun.
Keberhasilan Muh Bilal dalam menjelaskan teori dan mempraktikkan bacaan ini menjadi bukti nyata efektivitas metode pembelajaran yang digunakannya. Terbukti Cepat, Mudah & Menyenangkan. Kuliah Tajwid Metode Akbariyah mampu melahirkan Santri yang menguasai Makhraj, Ilmu Tajwid & Ghoribul Qur’an baik Teori maupun Prakteknya.
Mendengar jawaban yang begitu komprehensif dan sistematis, sang penguji pun tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya. Penguji langsung memuji Bilal dengan ucapan masya Allah dan mengajak seluruh hadirin untuk mengumandangkan takbir. “Masya Allah luar biasa takbir dulu untuk Bilal, Allahu Akbar! Sekali lagi Allahu Akbar! Sudah mantap,” seru penguji dengan penuh rasa syukur dan bangga.
Kisah Muh Bilal ini memberikan inspirasi besar bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi tertinggi dalam mempelajari Al-Qur’an. Dengan dukungan metode pembelajaran yang tepat seperti di Training Al Qur’an Metode Akbariyah, santri dari latar belakang mana pun dapat menguasai ilmu tajwid secara mendalam, baik dari segi teori maupun praktik langsung. (aka)



















