RakyatPos.id – Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap gadis korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Arifah membenarkan, korban sudah mendapat bantuan. Pemerintah juga berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memastikan penanganan korban berjalan baik.
“Ini sudah kami tangani dan koordinasikan. Kemudian korban juga kami bantu, jadi sudah terkoordinasi dengan baik,” kata Arifah dikutip Antara, Senin (7/9/2026).
Arifah mengatakan, korban merupakan anak di bawah 15 tahun. Kasus ini menjadi perhatian pemerintah mengingat kondisi korban sebagai penyintas bencana yang memerlukan perlindungan dan bantuan khusus.
Selain penanganan korban, Kementerian PPPA bersama sejumlah lembaga terkait masih terus melakukan pendataan pengungsi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak, dapat terpenuhi di lokasi pengungsian.
Menurut Arifah, pemerintah telah memetakan perlunya tempat pengungsian khusus perempuan dan anak. Namun masih ada sejumlah tenda yang digunakan secara campur aduk karena proses pendataan dan pengorganisasian pengungsi masih berlangsung.
“Kita kerja kolektif ya dari BNPB, Kemensos, Kemenko PMK juga langsung turun ke lapangan. Sudah dipetakan tenda ini tenda khusus perempuan dan anak,” ujarnya.
Dijelaskannya, penataan seluruh pengungsi tidak bisa dilakukan secara instan karena memerlukan proses pendataan lebih lanjut di lapangan.
Sementara itu, hingga saat ini polisi belum menangkap terduga pelaku kasus dugaan kekerasan seksual tersebut.
“Pemerintah terus mengupayakan perlindungan terhadap perempuan dan anak di pengungsian agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan mendapatkan akses terhadap bantuan yang mereka perlukan,” tutupnya.



















