Tragedi di India: Ayah, Ibu, dan Anak Jatuh dari Tebing Kasus Ngoceh Cicilan iPhone

- Jurnalis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Sebuah tragedi menimpa sebuah keluarga di Maharashtra, India. Kunal Chandgude, 19 tahun, bersama orang tuanya meninggal setelah terjatuh dari tebing akibat masalah pembayaran cicilan iPhone.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikutip dari NDTV, Senin (24/8/2026), Kunal diketahui membeli iPhone dengan skema cicilan. Namun, ia kemudian kesulitan membayar cicilannya. Permasalahan tersebut memicu pertengkaran dengan orang tuanya ketika Kunal meminta uang untuk membayar cicilan terakhir.

Usai bertengkar, Kunal meninggalkan rumah dan pergi ke tepi bukit. Situasi kemudian berkembang menjadi ketegangan selama kurang lebih tiga jam sebelum berakhir tragis.

Ayah Kunal, Murlidhar, 48, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai sopir untuk menghidupi keluarganya, mencoba mendekati dan menangkap putranya. Namun, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tebing.

Melihat kejadian tersebut, ibu Kunal, Sangeeta pun ikut terlonjak dalam keadaan kaget dan putus asa. Ketiganya akhirnya meninggal.

Satu kasus saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa membeli iPhone secara mencicil adalah jalan pasti menuju jebakan utang. Namun, tragedi di Maharashtra kembali menyoroti masalah tekanan finansial yang lebih luas yang disebabkan oleh pembelian perangkat mahal, terutama di kalangan generasi muda.

Pemberitaan media dari waktu ke waktu juga mencatat kasus kematian akibat stres dan masalah keuangan terkait pembelian perangkat elektronik mahal. Sebagian besar kasus ini melibatkan generasi muda atau kelompok yang disebut Gen-Z.

Di India, data survei konsumsi makroekonomi dan distribusi kekayaan menunjukkan kurang dari 50 juta rumah tangga memiliki pendapatan keluarga bulanan sebesar 75.000 rupee.

Dengan asumsi harga rata-rata iPhone yang dianggap sebagai ponsel aspirasional mencapai rupee 75.000, pembelian perangkat tersebut berpotensi menjadi beban besar bagi banyak rumah tangga.

Pertanyaan apakah iPhone mendorong ratusan ribu keluarga India ke dalam utang juga patut mendapat perhatian serius.

Lembaga riset pasar independen Counterpoint Research memperkirakan setidaknya 42 persen iPhone yang dijual di India tahun ini akan dibeli melalui paket cicilan.

Tragedi keluarga Chandgude menunjukkan bagaimana keinginan untuk memiliki ponsel pintar premium, yang dipicu oleh pembiayaan ritel yang agresif, dapat berubah menjadi tekanan psikologis dan ekonomi bagi keluarga yang tidak siap menghadapi utang dalam mengonsumsi perangkat teknologi.

Riset pasar independen menunjukkan pembelian ponsel pintar kelas atas dengan menggunakan pinjaman kini semakin umum. Tren ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga merambah kota-kota kecil hingga desa.

Konsumen semakin meninggalkan pembayaran tunai atau sekaligus karena harga perangkat terus meningkat. Industri ponsel pintar kemudian mendorong skema cicilan sebagai cara untuk mempertahankan pertumbuhan di pasar yang sensitif terhadap harga.

Cicilan Dibuat Agar Terlihat Ringan

Data menunjukkan pasar kelas menengah ke bawah kini menjadi segmen pembelian ponsel pintar yang paling bergantung pada pembiayaan, bahkan melampaui kota-kota besar, menurut studi Counterpoint Research bulan ini.

Untuk menyamarkan tingginya biaya perangkat premium, pasar ritel memperpanjang periode pembayaran. Dengan begitu, jumlah yang harus dibayarkan setiap bulannya terlihat lebih mudah dijangkau, meski jangka waktu utangnya menjadi lebih panjang.

Saat ini, rata-rata jangka waktu pembiayaan ponsel pintar di toko ritel fisik adalah 10 bulan. Khusus iPhone, kuatnya daya tarik produk smartphone ini membuat rata-rata jangka waktu pembiayaan mencapai 17,2 bulan, menurut lembaga riset pasar.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pendapatan masyarakat dengan barang yang dikonsumsinya. Jika harga rata-rata sebuah iPhone diperkirakan secara konservatif sebesar Rp 75.000, maka nilainya bahkan lebih besar dari pendapatan rata-rata pembeli jika dibandingkan dengan total pendapatan rumah tangga dalam sebulan.

Namun, jutaan perangkat premium ini masih terjual setiap kuartalnya.

Pembeli muda dapat masuk ke toko ritel, menyerahkan dokumen identitas dasar, lalu membawa pulang perangkat elektronik yang harganya lebih mahal daripada pendapatan bulanan seluruh keluarga mereka.

Bagi orang tua seperti Murlidhar, yang bekerja berjam-jam sebagai sopir, membayar ponsel dengan harga mahal dapat berarti mengorbankan stabilitas rumah tangga, menunda kebutuhan medis yang penting, atau mengurangi pengeluaran untuk makanan.

Tekanan Sosial Gen-Z

Bagi konsumen Gen-Z, iPhone juga mempunyai posisi sebagai simbol sosial dan penanda kelas yang sangat terlihat.

Analis perilaku konsumen independen dan psikolog remaja menyoroti bahwa tekanan untuk menyesuaikan diri dapat dirasakan lebih kuat di kota-kota kecil. Kepemilikan perangkat dapat memengaruhi penerimaan sosial di antara kelompok teman sebaya, sementara algoritme media sosial juga memengaruhi pandangan yang mengaitkan harga diri dengan kepemilikan barang.

Pembelian dengan skema cicilan kini juga semakin mudah dengan berkembangnya perusahaan pembiayaan non bank dan pembiayaan di point of sale.

Proses peminjaman yang sebelumnya membutuhkan waktu dan prosedur lebih lama kini telah berubah. Pembeli tidak perlu mengunjungi bank, memberikan jaminan fisik, atau menjalani penilaian ketat terhadap kondisi keuangan keluarga secara keseluruhan.

Algoritmenya bahkan dapat menyetujui pinjaman tanpa kertas dalam waktu kurang dari tiga menit berdasarkan kartu PAN dan kode OTP.

Di sisi lain, retailer mendapat margin lebih tinggi dari perangkat premium sehingga gencar menawarkan skema cicilan. Konsumen, termasuk Gen-Z, mendapatkan kepuasan instan saat membawa pulang dan membuka kotak produk-produk kelas atas, sementara beban finansial yang tidak terlihat perlahan-lahan beralih ke orang tua.

Tragedi ini pada akhirnya menyoroti dampak lain dari obsesi konsumeris terhadap keluarga pekerja yang telah bekerja dan menabung selama bertahun-tahun untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Dalam situasi tertentu, mereka justru bisa terjerumus ke dalam siklus utang konsumen yang tidak sepenuhnya mereka pahami, termasuk harus menanggung biaya pemenuhan kebutuhan sosial anak-anaknya dan menjaga kedamaian dalam rumah tangga.


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Pelajar Banda Aceh penjambretan, sepeda motor disita dengan ancaman pisau, polisi tangkap dua pelaku
Cara Menonton Minnesota Lynx vs Golden State Valkyries pada 24 Agustus: Streaming, Waktu Pertandingan, Laporan Cedera, Jersey
Danrem Lilawangsa dan Bupati Bener Meriah Ajak Masyarakat Pilih Indonesia Damai
Setelah bertahun-tahun hilang karena cedera, Jose Urquidy mungkin menemukan kecepatannya di belakang rotasi White Sox
Rekening Donasi Aktivis Diblokir, Netizen Serukan Boikot Bank Mandiri
Resmi Menjadi Pj Sekda Aceh, Tokoh Aceh Minta Taufik Jaga Stabilitas Pemerintahan
Warga Negara Washington yang jatuh bebas pulang untuk 4 pertandingan melawan Rockies
Pengamat: Tuduhan Dasco Campur Tangan di Kongres NU Tidak Berdasar

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:03 WIB

Pelajar Banda Aceh penjambretan, sepeda motor disita dengan ancaman pisau, polisi tangkap dua pelaku

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:46 WIB

Cara Menonton Minnesota Lynx vs Golden State Valkyries pada 24 Agustus: Streaming, Waktu Pertandingan, Laporan Cedera, Jersey

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Tragedi di India: Ayah, Ibu, dan Anak Jatuh dari Tebing Kasus Ngoceh Cicilan iPhone

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:56 WIB

Danrem Lilawangsa dan Bupati Bener Meriah Ajak Masyarakat Pilih Indonesia Damai

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:54 WIB

Setelah bertahun-tahun hilang karena cedera, Jose Urquidy mungkin menemukan kecepatannya di belakang rotasi White Sox

Berita Terbaru

Al Jazeera - LIVE