RakyatPos.id, BANDA ACEH – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Teuku Zulkhairi mengapresiasi keputusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh yang menolak menjadikan permainan domino sebagai olahraga prestasi di Aceh.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah bijak karena mempertimbangkan kekhususan Aceh sebagai wilayah yang menerapkan syariat Islam.
Baca juga: ISAD Apresiasi Ketegasan KONI Aceh Jaga Nilai Syariah Dalam Pembinaan Olahraga
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Zulkhairi mengatakan, setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, dan peraturan yang berbeda sehingga tidak semua kebijakan yang diterapkan di daerah lain harus diambil di Aceh.
“Saya sebagai akademisi memandang keputusan KONI Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Aceh. Kebijakan olahraga tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga harus memperhatikan aspek filosofis, sosiologis, dan yuridis yang berlaku di Aceh,” ujarnya.
Menurut Wakil Ketua Ikatan Alumni Dayah (ISAD) ini, meski di sejumlah daerah permainan domino telah dikembangkan sebagai olahraga prestasi, namun dalam realitas sosial masyarakat Aceh permainan tersebut masih mempunyai persepsi yang kuat sebagai suatu kegiatan yang sering dikaitkan dengan praktik perjudian.
“Meski olahraga dan perjudian merupakan dua hal yang berbeda konsepnya, namun persepsi masyarakat tetap menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan kebijakan publik. Oleh karena itu, kehati-hatian KONI Aceh patut diapresiasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat,” ujarnya.
Ditambahkannya, Aceh mempunyai banyak cabang olahraga lain yang berpotensi untuk dikembangkan yang sesuai dengan karakter budaya Aceh dan berpeluang besar melahirkan atlet-atlet berprestasi.
“Fokus pembinaan cabang-cabang olahraga tersebut akan lebih efektif dalam meningkatkan prestasi dengan tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi jati diri Aceh,” jelasnya.
Baca juga: Profil Teuku Rahmatsyah, Putra Banda Aceh yang Menjadi Kajati Aceh, Pernah Terungkap Kasus Korupsi Besar
Zulkhairi berharap keputusan ini dapat menjadi contoh bahwa pembangunan olahraga dapat berjalan beriringan dengan tetap menghormati nilai-nilai agama dan budaya setempat.
Keduanya justru bisa berjalan beriringan jika setiap kebijakan dirumuskan dengan mengedepankan kemaslahatan masyarakat. Kami mengapresiasi sikap KONI Aceh yang memilih menjaga keseimbangan antara pembinaan olahraga dan menghormati keunikan Aceh sebagai daerah syariah Islam, tutupnya.
















