RakyatPos.id – Iran siap perang habis-habisan melawan Amerika Serikat (AS), meski tetap mengedepankan solusi diplomatik. Konflik kedua negara kembali pecah di titik terakhir yang dipicu oleh pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan militernya selalu siap berperang. Namun, kepala negosiator perundingan dengan AS juga menekankan perlunya memanfaatkan diplomasi untuk memajukan kepentingan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita tidak pernah menginginkan perang dan tidak menginginkannya saat ini, namun kita harus selalu siap berperang dan mempertahankan keamanan dan kepentingan nasional sampai nafas terakhir,” kata Ghalibaf, dalam akun Telegramnya, dikutip Kamis (16/7/2026).
“Pada saat yang sama, kita juga harus menggunakan diplomasi dan negosiasi untuk memajukan dan melindungi kepentingan nasional kita,” ujarnya lagi.
Konflik terbaru Iran-AS pecah pada 7 Juli yang ditandai dengan pernyataan Presiden Donald Trump bahwa MoU gencatan senjata telah berakhir. Padahal, MoU penghentian perang yang berlangsung sejak 28 Februari itu berlaku selama 60 hari terhitung sejak kedua pihak menandatangani perjanjian pada 17 Juni lalu.
Bukannya mereda, serangan dari kedua belah pihak justru semakin intensif dalam beberapa hari terakhir. AS dan Iran sama-sama memperluas target serangan mereka.
Trump mengatakan Selasa lalu bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut dan meningkat dalam beberapa hari mendatang. Bahkan militernya akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan minggu depan kecuali Iran bersedia kembali ke meja perundingan.
Namun pernyataan berbeda disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Esmail Baghaei yang menyebut Iran belum memiliki rencana untuk bernegosiasi dengan AS saat ini.
“(Iran) Fokus pada pertahanan,” kata Baghaei.
Kementerian Kesehatan Iran mengungkapkan, serangan AS dalam sepekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 35 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka.
















