Manokwari, RakyatPos.id – Sebagian warga di Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat berharap air hujan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun karena musim kemarau panjang sejak beberapa bulan terakhir, warga di sana terpaksa memanfaatkan air sungai yang keruh untuk kebutuhannya.
Di Kecamatan Tomu terdapat tujuh desa, yaitu Desa Tomu, Desa Totitra, Desa Ayot, Desa Ekam, Desa Adu, Desa Rejo Sari, dan Desa Wanagir.
Umar, salah satu warga Desa Tomu mengatakan, saat musim kemarau seperti sekarang, dirinya bersama warga lainnya hanya bisa menampung air sungai yang keruh di perbatasan antar desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“(Kami) hanya berharap air hujan dan ini sudah (berlangsung) bertahun-tahun sejak orang tua kami,” kata Umar, Selasa (18/08/2026).
Diakui Umar, saat musim kemarau seperti sekarang, warga menunggu air pasang untuk mengonsumsinya.
“Ada yang direbus lalu diminum, ada juga (yang) memanfaatkan untuk keperluan rumah tangga lain seperti mencuci,” ujarnya.
Ia mengatakan, warga di sana sudah terbiasa dengan situasi itu. Perusahaan gas alam BP Tangguh pernah menawarkan bantuan mesin untuk mengambil air dari sungai.
“Perusahaan pernah menawarkan mesin yang bisa mengambil air dari sungai, tapi saat itulah perusahaan gas pertama kali masuk,” ujarnya.
Sekretaris Desa Adur, Jumat Kosepa, juga mengeluhkan kebutuhan warga akan air bersih. Katanya, kemerdekaan Indonesia terus diperingati setiap tahunnya, namun masyarakat di sana belum bisa menikmati air bersih.
“Kita sudah bertahun-tahun merayakan kemerdekaan. Tapi kita belum merasakan kebebasan dari air bersih,” kata Friday Kosepa yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Adat LMA Distrik Tomu.
Kata dia, pihaknya berharap ada bak penampungan air dan pipa-pipa untuk menyalurkan air bersih. Namun hal tersebut hanya sekedar mimpi di masa perayaan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, masyarakat di Distrik Tomu sebagian besar mengandalkan air hujan. Tidak ada tempat penampungan air, tidak ada pipa yang menyalurkan air bersih ke rumah warga.
Air hujan untuk konsumsi, (minum) dan (digunakan) untuk memasak, sedangkan air sungai tidak layak dikonsumsi warga. Air sungai hanya untuk mencuci dan mandi, kata Jumat Kosepa.
Jumat Kosepa mengatakan, selama tiga bulan terakhir kekeringan panjang melanda wilayah tersebut. Stok air hujan warga sudah habis sehingga terpaksa mengandalkan air sungai yang keruh untuk dikonsumsi, meski tak layak, mereka tak punya pilihan.
“Air sungai menjadi solusi terakhir untuk bertahan hidup, meski sudah tercampur air laut dan limbah sungai. Namun masyarakat tetap mengambil air sungai, karena air laut sudah masuk ke sungai,” ujarnya.
Dikatakannya, meski di Kecamatan Tomu ada depo air mineral yang menjual air minum kemasan, namun yang digunakan adalah air keruh dari sungai.
Ia mengatakan, sewaktu-waktu sungai tersebut tercemar sampah karena terdapat tempat pembuangan sampah umum di dekat sungai. Jaraknya kurang lebih 29 meter dari tepian sungai.
Jumat Kosepa berharap pemerintah tidak hanya merayakan HUT RI dengan meriah dari tahun ke tahun. Namun mereka belum bisa memahami apa arti kemerdekaan bagi warga, khususnya di Kecamatan Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni.
Postingan Kemarau panjang: Warga Distrik Tomu manfaatkan air sungai keruh pertama kali muncul di RakyatPos.id Papua.















