Ringkasan Berita:Puluhan rumah di Desa Bengkelang, Kecamatan Bandarpusaka, Aceh Tamiang, terendam banjir setinggi 40 sentimeter akibat hujan deras dan saluran sungai yang dangkal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir terparah terjadi di Dusun Selamat dan Dusun Sriwijaya, bahkan satu sekolah pun terdampak.
Warga dan pemerintah desa menyatakan normalisasi sungai perlu dilakukan, namun terkendala biaya besar karena saluran yang harus dinormalisasi mencapai sekitar 5 kilometer.
Laporan Jurnalis Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEW.COM, KUALASIMPANG – Puluhan rumah di Desa Bengkelang, Kecamatan Bandarpusaka, Aceh Tamiang terendam banjir, Selasa (18/8/2026) sore.
Genangan air masuk ke rumah warga dengan ketinggian 40 sentimeter.
Datok Penghulu Desa Bengkelang, Ardan mengatakan, banjir terparah terjadi di Dusun Selamat dan Dusun Sriwijaya.
“Tetapi yang paling parah dari Dusun Selamat adalah sekolahnya juga terkena dampaknya,” kata Ardan.
Ardan sendiri saat dikonfirmasi mengaku terjebak di sebuah lapangan di perbukitan.
“Saya belum bisa pulang, kebetulan di sawah, sekarang air sedang tinggi dan saya tidak bisa pulang,” ujarnya.
Baca juga: HUT RI, 640 Ekor Tuntong Laut Dilepaskan ke Laut Aceh Tamiang
Ardan mengatakan, banjir ini disebabkan oleh intensitas hujan yang deras dan durasi yang lama.
Kondisi ini diperparah dengan alur sungai yang semakin dangkal sejak banjir bandang tahun 2025.
Saluran sungainya dangkal setelah banjir kemarin, sehingga air hujan meluap, ujarnya.
Ardan menambahkan, satu-satunya cara untuk mengatasi banjir adalah dengan melakukan normalisasi saluran sungai.
Namun, secara terang-terangan ia mengatakan bahwa desa tidak mampu membiayainya karena membutuhkan biaya yang besar.
Biaya ini disebabkan jarak saluran ke sungai yang mencapai 5 kilometer. “Kalau dihitung 25 hari kerja, kami tidak punya anggarannya,” lanjutnya.
Baca juga: Harga cabai merah di Kualasimpang meroket dari Rp 28 ribu menjadi Rp 60 ribu per kilogram
Camat Bandapusaka Cakra Agie Winapati membenarkan, banjir di Bengkelang disebabkan saluran sungai semakin dangkal pascabanjir bandang.
Saluran ini sebelumnya sudah dinormalisasi, namun kembali dangkal akibat penumpukan lumpur banjir.
“Sebelum banjir sudah dilakukan normalisasi, namun menjadi dangkal lagi karena timbunan lumpur banjir kemarin,” ujarnya. (gila)

















