Suku Sempan: Masyarakat Bumi Amungsa yang Terlupakan

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, RakyatPos.id – Suku Sempan telah bergabung dengan Suku Kamoro di Lembaga Masyarakat Adat Kamoro (Lemasko) di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Namun secara budaya dan bahasa, suku Sempan berbeda dengan suku Kamoro. Suku Sempan sebagian besar bermukim di pesisir pantai Mimika Timur, termasuk di Kecamatan Mimika Timur Jauh.

Antropolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Uncen, Dr. Andro Loekito melihat perbedaan kedua suku tersebut dari segi subsukunya, dimana masyarakat Sempan mempunyai dialek yang berbeda dengan suku Kamoro.

“Saya belum melakukan penelitian antara kedua suku tersebut. Namun terdapat perbedaan dialek dan nyatanya baik suku Kamoro maupun Sempan termasuk dalam wilayah adat Animha karena terdapat kemiripan dengan suku Asmat yang ada di Animha, khususnya antara patung Mbis dan patung Mbitoro dari suku Kamoro,” kata Andro Loekito kepada RakyatPos.id melalui telepon selulernya, Sabtu (25/7/2026).

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, masyarakat Sempan atau Semopane Berutang sebagian besar tinggal di Desa Ohoytia dan Desa Omawita. Sejak zaman dahulu mereka mempunyai pola hidup nomaden, mereka hidup dari hasil alam dari hutan, sungai dan laut, di sepanjang kaki gunung, garis pantai bahkan sampai ke laut luas.

Sementara itu, salah satu warga Sempan di Desa Ohoyta, Alexander Matiwera, kepada RakyatPos.id beberapa waktu lalu saat memberitakan Mimika, katanya, “kami orang dari timur”.

“(Kami) dulu (menyebut diri) Suku Sempan. Sekarang (orang) bilang (kami Suku Kamoro). Padahal bahasanya (berbeda). Kami (masih menyebut diri orang) Sempan Timur,” kata Alexander Matiwera.

Kampung Omawita merupakan kawasan pesisir pantai di Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Desa ini mayoritas dihuni oleh masyarakat suku Sempan atau Semopane Owe. Kelompok etnis asli tersebar di wilayah pesisir Mimika.

Menurut adat lama suku Sempan, Sempan berasal dari dua kata yaitu se/he yang berarti “tanah” dan mopane yang berarti “tuan”, sehingga “Sempan” dapat diartikan sebagai “tuan tanah”.

Sejak dahulu kala, nenek moyang mereka tetap menggunakan bahasa Sempan tanpa mengenal istilah suku Sempan. Baru-baru ini suku Mimika terpecah menjadi dua suku besar yaitu suku Kamoro dan suku Amungme, kemudian suku Sempan dikategorikan ke dalam suku Kamoro.

Meski termasuk suku Lemasko atau Kamoro, namun masyarakat Otakwa/Ohotya tetap menyebut dirinya sebagai orang Sempan (Semopane Owe). Memang kisah nenek moyang mereka berasal dari Desa Okaba, distrik tertua di Kabupaten Merauke yang termasuk dalam wilayah adat Animha.

Suku Akimuga dan Sempan

Bestur Kokonao 1958-1961, Distrik Mimika Timur, wilayah Nerdelands Nieuw Guinea. Arnold Mampioper dalam bukunya yang berjudul Manusia Amungme Utama dari Pegunungan Nemangkawi Cartensz menyebutkan bahwa kawasan Agimuga merupakan kawasan perburuan suku Sempan dari kelompok Nafaripi dan Sekarowe.

Pada tanggal 6 September 1959 diadakan pertemuan di Killiarma untuk membahas pelepasan tanah adat dan ganti rugi wilayah perburuan suku Sempan. Diskusi ini dihadiri oleh seluruh Nafaripi fans Sekawore yang berjumlah 134 orang. “Mereka juga berasal dari Desa Piparo,” tulis Mampioper di halaman 60 bukunya.

Dijelaskan lebih lanjut, dalam pertemuan tersebut juga turut hadir masyarakat Amungme dan tokoh adatnya yang pindah tinggal di Akimuga yang kini menjadi Distrik Agimuga di Kabupaten Mimika.

Masyarakat Nafaripi dan Sekarowe diberikan penjelasan tentang keinginan masyarakat Amungmme untuk menetap secara permanen di Agimuga, serta pembukaan posko dan penempatan pejabat pemerintah untuk memimpin masyarakat Amungme dan Sempan di wilayah Agimuga.

Suku Sempan yang berada di wilayah Agimuga antara lain golongan Nafaripi, Sekarowe, Wumuni, Waiteko, Imitawe, Apiame, Epame dan Uapu.

Dalam perkembangan saat ini, Kecamatan Akimuga Kabupaten Mimika terdiri dari Desa Fakafuku, Kiliarma, Aramsolki, Hinat Untung, Masasimamo, Emkoma Halama, Emogoma (Emogora).

Masyarakat Sempan di Desa Ohoyta, Omawita dan Fanamo

Mengutip blue-forests.org, masyarakat yang tinggal di Desa Ohotya, Distrik Timur Jauh Mimika saat ini merupakan Suku Sempan yang secara historis hidup nomaden atau nomaden.

Sejarah menyebutkan mereka berasal dari wilayah timur yakni Desa Okaba di Kabupaten Merauke. Karena terjadi konflik adat di wilayah tersebut, masyarakat memilih pindah ke Desa Owapi dan menetap cukup lama di sana.

Komunitas ini kembali harus pindah ke Desa Wenin di Distrik Jita karena kasus pembunuhan yang dikenal dengan kasus Minoro Kases.

Di lokasi baru kembali terjadi konflik berupa perang antar masyarakat yang diakibatkan oleh sengketa pertanahan berupa perebutan dusun sagu.

Konflik ini memaksa mereka kembali ke desa Ohotya, tempat mereka tinggal sekarang. Perpindahan ke Desa Ohotya dikenang oleh para tetua adat terjadi pada tahun 1940-an.

Dari Desa Ohotya, komunitas masyarakat yang menamakan dirinya Semopane Owe (Orang Sempan) ini memperluas tempat/wilayahnya hingga ke Desa Imitawapi.

Pada tahun 1950, masyarakat adat ini mulai mengakui agama Katolik. Penyebaran agama ini dibawa oleh seorang misionaris yaitu Pendeta Gerald Zegwaard. Selain itu, masyarakat Sempan juga tinggal di desa Omawita dan Fanamo.

Pada tahun 1990-an, wilayah Desa Sempan Omawita dan Fanamo terkena dampak tailing, mereka mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) cabang Timika kemudian Pieter Welikin dan kawan-kawan melakukan investigasi ke wilayah yang terkena dampak tailing.

Terjadi perubahan warna moluska menjadi warna bitnik kehitaman, rasa pun ikut berubah. Begitupun dengan tambelo di kawasan hutan bakau mencari kepiting, tambelo sudah berubah warna dan rasanya pun berubah.

Tak heran jika Yayasan Bina Masyarakat Desa Papua (YPMD) yang pernah mendampingi warga Kampung Omawita Suku Sempan menjelaskan terdapat beberapa kesulitan, antara lain, (1) Tidak adanya cara yang tepat dalam menghitung ganti rugi. (2) Apakah kompensasi yang diberikan dapat memberikan jaminan bahwa mereka dapat hidup lestari.

(3) Bagaimana masyarakat dapat bertahan hidup dengan kompensasi sementara. (4) Sangat tinggi ketergantungan masyarakat terhadap potensi sumber daya air dan kawasan mangrove.

Itulah sekilas perjuangan dan pengalaman masyarakat suku Sempan yang selama ini dianggap sebagai bagian dari suku Kamoro, meski mengaku sebagai orang Sempan dan bukan suku Kamoro.

Bagi mereka, Suku Sempan termasuk dalam suku kedelapan dari tujuh suku kekerabatan yang ada di Bumi Mimika saat ini.

Lanjutkan Membaca

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

AS Ancam Serang Iran Jika Negosiasi Kebuntuan
Keuntungan Grant McCray untuk SF Giants sudah jelas, tetapi kelemahan juga menghambatnya
Hantu itu masih menghantui
Kode Redeem FF 28 Juli 2026, Buruan Klaim Bundle, Skin Senjata, Emote, dan Token Gratis
Soal Londo Ireng Prabowo, Fraksi PDI-P DPR RI Ingatkan Pemerintah Jangan Anti Kritik
Mindy Kaling Bersumpah dengan Pembersih Wajah Apotek Ini untuk Mengontrol Kulit Berminyak — Dan Harganya Hanya $17
Esmerlyn Valdez meninggalkan permainan setelah terkena lemparan demi lemparan
Siapkan Payung, BMKG Prediksi Selasa 28 Juli Seluruh Wilayah Kota Subulussalam Akan Diguyur Hujan

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:40 WIB

AS Ancam Serang Iran Jika Negosiasi Kebuntuan

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:38 WIB

Keuntungan Grant McCray untuk SF Giants sudah jelas, tetapi kelemahan juga menghambatnya

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:25 WIB

Hantu itu masih menghantui

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:01 WIB

Kode Redeem FF 28 Juli 2026, Buruan Klaim Bundle, Skin Senjata, Emote, dan Token Gratis

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:48 WIB

Soal Londo Ireng Prabowo, Fraksi PDI-P DPR RI Ingatkan Pemerintah Jangan Anti Kritik

Berita Terbaru

HEADLINE

AS Ancam Serang Iran Jika Negosiasi Kebuntuan

Selasa, 28 Jul 2026 - 10:40 WIB

HEADLINE

Hantu itu masih menghantui

Selasa, 28 Jul 2026 - 10:25 WIB