Jayapura, RakyatPos.id – Pada tahun 1956, pemuda Papua asal Fakfak melakukan pemberontakan dan berhasil membakar beberapa kantor polisi serta mencuri sejumlah senjata. Menyikapi ditangkapnya pimpinan PPI dan OPI di Sorong, OPI mulai dipimpin oleh Bastian Samori, Yulius Worabay, Lodewijk Wosiri, Bob Warinusi, dan Elias Paprindey. Pada tanggal 3 November 1956, gerakan beranggotakan 300 orang ini merencanakan aksi sabotase dengan meledakkan tangki minyak di Sorong. Namun rencana ini digagalkan oleh penguasa Belanda dan mereka berhasil menangkap E. Paprindey, Elimelek Ayoni, dan Franky Kossa pada November 1959.
Terjadi pertempuran sengit berturut-turut di Enarotali antara tahun 1952 dan 1954; kawasan sekitar Danau Wissel menjadi pusat gerakan mesianis yang disebut Wege. Gerakan ini berpusat pada kepercayaan bahwa Ratu Adil dari Jawa akan datang dan mendirikan kerajaan kebahagiaan, yang didasarkan pada cerita lokal tentang Situgumina yang melakukan perjalanan ke barat, ke Jawa, dan akan kembali lagi membawa rahasia kehidupan, kematian, dan kekayaan; Oleh karena itu, suku Ekari harus mempersiapkan kedatangannya.
Masyarakat setempat memulai persiapan dengan mendirikan barak di tengah hutan dan mengikuti upacara selama berminggu-minggu. Pemimpin gerakan ini adalah Zacheus Pakage, mantan pendeta dari Bomou yang pernah belajar di Makassar; ia ditangkap dan dipenjarakan pada pertengahan tahun 1954, dan baru dibebaskan pada tahun 1962. Peristiwa lain terjadi di Obano, 3 November 1956, ketika pesawat Cessna milik misionaris dibakar oleh suku Ekari, yang mengakibatkan adanya pembalasan dari Belanda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada bulan Agustus 1957, sepasang polisi Belanda terbunuh di sekitar kawasan Danau Wissel, dan peristiwa kedua terjadi pada tahun 1959. Peristiwa ini dikenal dengan “Insiden Enarotali”. Pada tanggal 6 Juli 1959, sejumlah senjata bekas Jepang disita dari penduduk setempat di Genyem, dekat Hollandia. Namun, hal ini memicu pemberontakan, dan polisi serta unit marinir Belanda dikirim untuk memadamkan pemberontakan. Bersamaan dengan peristiwa tersebut, pemberontakan yang berakar pada gerakan mesianis juga meletus di dekat wilayah Asmat. Gerakan ini dimulai pada tahun 1956, yang memicu tindakan balasan brutal dari pemerintah kolonial Belanda, dan sekitar 700 orang terbunuh di Desa Ayan. Pemberontakan lainnya terjadi pada tahun 1958–1959, ketika pemerintah Belanda mengerahkan kapal HNLMS Piet Hein, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.000 orang di Agats. Peristiwa ini dikenal dengan nama “Insiden Agats”.
Pada tahun 1960 terjadi serangkaian pemberontakan khususnya di Kokas, Fakfak, pada bulan Agustus dan Desember 1960 yang dipimpin oleh Lapadanga; banyak pelakunya ditangkap dan diasingkan ke Digul. Kemudian pada bulan November 1960, sekitar 25 pemuda Papua di Merauke ditangkap Belanda karena mengadakan aksi perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Di Hollandia (sekarang Jayapura) juga terjadi pemberontakan sengit pada tahun yang sama, yang lebih dikenal dengan “Insiden Lembah Baliem”. Dalam menumpas pemberontakan tersebut, penguasa Belanda bertindak kejam sehingga memicu protes dari masyarakat Belanda dan penduduk setempat.
Di Biak juga terjadi sejumlah penangkapan, antara lain seorang guru bernama Petrus Wettebessy yang ditangkap karena aktivitasnya melawan Belanda sebagai Ketua Partai Irian Dalam Republik Indonesia Serikat (PIDRIS) bersama Corinus Krey dan Wakil Ketua Umum Partai Marthen Indey yang ditangkap terpisah di Ambon. Kemudian pada bulan Desember terjadi pemberontakan antara anak sekolah dan guru akibat tindakan sewenang-wenang pejabat Belanda terhadap pemuda Papua. Di Sorong, terjadi peristiwa lain yang melibatkan anggota OPI di bawah pimpinan Bastian Samori; dia akhirnya ditangkap dan dipenjarakan oleh otoritas Belanda.
Setelah kegagalan resolusi Afro-Asia ketiga pada bulan November 1957, pemerintah Indonesia melancarkan kampanye nasional yang menargetkan kepentingan Belanda di Indonesia; Hal ini berujung pada pencabutan hak pendaratan maskapai nasional Belanda KLM, demonstrasi massal dan pemogokan pekerja di perusahaan milik Belanda, serta penyitaan perusahaan pelayaran Belanda KPM, BPM, Borsumij, bank milik Belanda, dan aset lainnya. Sebanyak 700 perusahaan milik Belanda dengan nilai total sekitar $1,5 miliar dinasionalisasi. Pada bulan Januari 1958, sepuluh ribu warga Belanda telah meninggalkan Indonesia, banyak di antaranya kembali ke Belanda. Nasionalisasi spontan ini berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, mengganggu komunikasi dan mempengaruhi produksi ekspor.
Presiden Sukarno juga mengabaikan upaya untuk mengangkat perselisihan tersebut pada Majelis Umum PBB tahun 1958, dengan alasan bahwa pendekatan rasional dan persuasi telah gagal. Pada bulan Juni 1960, sekitar 13.000 warga negara Belanda—kebanyakan warga Eurasia dari Papua—berangkat ke Australia, sementara sekitar 1.000 orang pindah ke Belanda. Setelah sekian lama intimidasi terhadap perwakilan diplomatik Belanda di Jakarta, pemerintah Indonesia resmi memutuskan hubungan dengan Belanda pada Agustus 1960.
Menanggapi agresi Indonesia dan di tengah tekanan lokal, pemerintah Belanda meningkatkan upayanya untuk mempersiapkan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri pada tahun 1959. Upaya ini berujung pada pendirian rumah sakit baru di Hollandia (sekarang RSUD Jayapura), galangan kapal di Manokwari, tempat penelitian pertanian, perkebunan, serta kekuatan militer yang dikenal dengan Korps Relawan Papua. Pada akhir tahun 1960, sebuah badan legislatif yang disebut Dewan New Guinea dengan fungsi legislatif, penasehatan dan kebijakan dibentuk. Setengah dari anggotanya akan dipilih melalui pemungutan suara, dan pemilihan dewan akan diadakan pada tahun berikutnya.

Termasuk pembentukan partai politik lokal. Partai-partai tersebut antara lain: Partai Nasional (Partai Nasional, Parna) yang dipimpin oleh Herman Wayoi, Partai Rakyat Demokrat (Democratische Volks Partij, DVP) yang dipimpin oleh A. Runtuboy, Kena U Embay (KUD) yang dipimpin oleh Essau Itaar, Partai Nasional Papua (Partai Nasional Papua, Nappa), Partai Papua Merdeka (PPM) yang dipimpin oleh Mozes Rumainum, Komite Nasional Papua (CNP) yang dipimpin oleh Willem Inury, Partai Papua. Front Nasional (FNP) dipimpin Lodewijk Ayamiseba, Partai Rakyat Papua (PONG) dipimpin Johan Ariks, Partai Persatuan Papua Nugini (Eenheidspartij Nieuw Guinea, EPANG) dipimpin Lodewijk Mandatjan, Partai Manusia Sama-Sama (SSM), Persatuan Kristen-Islam Raja Ampat (Perchisra) dipimpin MN Majalibit, dan Persatuan Pemuda Papua (PERPEP) dipimpin AJF Marey.
Belanda juga berupaya menumbuhkan rasa identitas nasional Papua Barat, dan upaya tersebut berujung pada pembuatan bendera nasional (bendera Bintang Kejora), lagu kebangsaan, dan lambang negara. Belanda berencana menyerahkan kemerdekaan kepada Irian Barat pada tahun 1970. Yang tidak terlibat dalam Dewan Irian adalah pihak-pihak dan gerakan-gerakan yang terang-terangan mendukung integrasi Papua dengan Indonesia, seperti KIM, PKII, Persatuan Pejuang Kemerdekaan Irian Barat (PPKI) pimpinan J. Dimara dan I. Kilikulat, Organisasi Pemuda Indonesia (OPII) Irian pimpinan NC Krey, PPI pimpinan SK Tumengkol, Organisasi Pemuda Irian (OPI) pimpinan D. Wosiri, Partai Kemerdekaan Indonesia (PKI) pimpinan Tan Tjung Ek, PIN, Partai Islam Indonesia, GMP, Gerakan Pemuda Indonesia (GPI) pimpinan Rumbewas, dan Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB).

Pada tahun 1962, GRIB mengadakan aksi protes secara terbuka menuntut agar Irian Barat dikembalikan ke Indonesia pada saat kunjungan Menteri Belanda Bost ke Fakfak. Selain pemberontakan Papua di New Guinea, sejumlah warga Papua berhasil lolos dari penangkapan dan melarikan diri ke Indonesia, bahkan ada pula yang tergabung dalam Batalyon Cendrawasih, seperti Corinus Krey, A. Koromath, AB Karubuy, AL Maranni, NL Suages, Letnan Henkie Antaribaba, Letnan Ramandey, HL Rumaseuw, Letnan Wanggai, Letnan Numberi, dan lain-lain yang kemudian menjadi pemimpin infiltrasi militer pada Operasi Trikora.
Tokoh lain yang mendapat pelatihan militer antara lain AJ. Dimara, Benny Torey, Marinus Imbury, Zadrack Rumbobiar, Melkianus Torey, dan Metusalim Fimbay. Sementara itu, delegasi diplomatik Indonesia lainnya antara lain: M. Indey, Frits Kiriheo, JA Dimara, serta S. Papare yang selama ini bermukim di wilayah Indonesia. Meskipun jumlah pasti mereka yang melarikan diri dari tahun 1949 hingga 1961 tidak diketahui, Yayasan Badan Penghubung Keluarga Perintis Irian Barat (Yayasan Veteran Irian Barat) mencatat 154 tokoh nasionalis Indonesia terkemuka dari seluruh Papua, dan sebagian besar melarikan diri pada periode 1959–1961.
Baca juga Sengketa Papua Barat: Asal Usulnya
Baca juga Sengketa Papua Barat: Dimensi Politik, Gerakan Nasionalis Lokal Indonesia
Baca juga: Sengketa Papua Barat: Irredentisme Indonesia
Baca juga Sengketa Papua Barat: Serangan Awal oleh Indonesia
















