Ringkasan Berita:
- Lahan kosong bekas pasar lapangan SMEP di Peunayong, Banda Aceh akan disulap menjadi pusat kuliner berkonsep China Town.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Saat ini, konstruksi telah dimulai oleh mitra dan dilaksanakan dalam jangka waktu beberapa tahun.
- Di lahan tersebut akan dibangun ruko kecil, jalur pejalan kaki, dan tempat pertunjukan. Dalam gambar desain yang dipublikasikan, terlihat ruko yang dibangun dengan arsitektur Tiongkok, berbentuk atap pelana dengan ujung melengkung ke atas.
Laporan Jurnalis Serambi Indonesia, Muhammad Nasir I Banda Aceh
RakyatPos.id, BANDA ACEH – Lahan kosong bekas pasar lapangan SMEP di Peunayong, Banda Aceh akan disulap menjadi pusat kuliner berkonsep China Town. Saat ini, konstruksi telah dimulai oleh mitra dan dilaksanakan dalam jangka waktu beberapa tahun.
Di lahan tersebut akan dibangun ruko kecil, jalur pejalan kaki, dan tempat pertunjukan. Dalam gambar desain yang dipublikasikan, terlihat ruko yang dibangun dengan arsitektur Tiongkok, berbentuk atap pelana dengan ujung melengkung ke atas.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, pada Selasa (21/7/2026) meninjau pelaksanaan proyek pembangunan kembali tersebut, guna mengetahui perkembangannya. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Kepala PUPR dan Kadis Komunikasi dan Informatika Muhammad Zubir.
Awalnya, revitalisasi eks Pasar SMEP mengusung konsep Chinatown. Hal ini tentunya tidak lepas dari sejarah Peunayong yang merupakan kawasan Pecinan di Banda Aceh. Namun dalam perjalanannya, Illiza juga mengusulkan agar kawasan tersebut tidak hanya didominasi oleh budaya Tionghoa atau arsitektur ala Tionghoa, tetapi juga memasukkan konsep Turkiye yang memiliki ikatan sejarah erat dengan Aceh.
Illiza mengatakan, kawasan eks Pasar SMEP awalnya dijadikan tempat relokasi PKL pasca bencana tsunami. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang di lokasi tersebut semakin berkurang sehingga membuat kawasan tersebut terlihat kumuh.
“Dulu setelah tsunami, pedagang direlokasi ke sini. Tapi sekarang barang dagangan pedagang sudah tidak laku, tempatnya juga kumuh, banyak yang kosong. Lalu kita berdiskusi dan akhirnya muncul ide revitalisasi ini. Alhamdulillah ide ini diterima dengan baik oleh para pedagang,” kata Illiza.
Saat kawasan ini hendak direvitalisasi, para pedagang yang masih direlokasi rela pindah, tanpa ada perlawanan. Alhamdulillah, saat kami merelokasi pedagang yang sebelumnya berjualan di sini, tidak ada perlawanan. Mereka justru mendukung, katanya.
Ia mengatakan, revitalisasi kawasan tersebut juga merupakan aspirasi para pedagang yang disampaikan kepadanya saat masa kampanye. “Jadi ini bagian dari program prioritas karena juga merupakan salah satu janji kampanye kita,” ujarnya.
Baca juga: Kapolresta Banda Aceh Pimpin Tes Urin dan Periksa Senjata Personelnya
Kedepannya kawasan ini juga akan dikembangkan dengan konsep Car Free Night, pusat jajanan malam, bahkan pasar kejutan. Dengan konsep ini diharapkan kawasan menjadi lebih hidup sehingga para pebisnis bisa meraup rejeki lebih baik. “Akan ada beragam makanan di sini pada malam hari,” katanya.
Proyek revitalisasi ini akan menggunakan anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) senilai Rp10 miliar. Namun pada tahun pertama dialokasikan anggaran sebesar Rp3,7 miliar. Pekerjaan tahap awal meliputi pembangunan gedung kafe, gedung ruko, amphitheater, dan saluran drainase.

















