Ringkasan Berita:
- Menurut Baghaei, bahkan ada kalangan kepemimpinan Iran yang telah “menghitung mundur waktu” untuk menyambut kedatangan pasukan Amerika jika invasi benar-benar terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Pulau Kharg berjarak sekitar 55 kilometer dari pantai Provinsi Bushehr dan merupakan pusat ekspor minyak Iran. Selama konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan merebut pulau strategis tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.
RakyatPos.id – Teheran mengeluarkan peringatan keras terkait kemungkinan invasi darat AS ke Pulau Kharg, pusat industri minyak Iran di Teluk Persia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Amerika Serikat akan menghadapi “konsekuensi dari petualangan apa pun” jika mencoba merebut Pulau Kharg.
Menurut Baghaei, bahkan ada kalangan kepemimpinan Iran yang telah “menghitung mundur waktu” untuk menyambut kedatangan pasukan Amerika jika invasi benar-benar terjadi.
Pulau Kharg berjarak sekitar 55 kilometer dari pantai Provinsi Bushehr dan merupakan pusat ekspor minyak Iran. Selama konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan merebut pulau strategis tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran.
Baca juga: Hadapi Invasi AS, Iran Aktifkan Pasukan Elit NOHED 65 dan Saberin, Unit Pembunuhan Rahasia
Pada saat yang sama, situasi keamanan di kawasan Teluk terus memburuk.
Bahrain, Kuwait dan Yordania dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran.
Militer Kuwait mengumumkan telah mencegat sejumlah drone yang memasuki wilayah udaranya. Operasi intersepsi masih terus dilakukan untuk mengantisipasi serangan lanjutan.
Di Bahrain, sirene peringatan berbunyi sepanjang pagi. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Manama mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk meningkatkan kewaspadaan setelah muncul informasi terkait potensi serangan Iran ke ibu kota Bahrain.
Sementara itu, Yordania mengonfirmasi pihaknya telah mencegat setidaknya tiga rudal. Rudal lain dilaporkan jatuh di tanah terbuka tanpa menimbulkan korban jiwa.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengaku telah menyerang depot amunisi dan sistem radar pertahanan udara di Kuwait.
Namun hingga saat ini pemerintah Kuwait belum mengonfirmasi klaim tersebut. Pemerintah daerah justru fokus menangani dampak serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air, yang memicu kritik dari sejumlah negara di kawasan.
Meningkatnya intensitas serangan dan saling ancaman antara Iran dan Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas dan menyeret negara-negara Teluk ke dalam pusaran pertempuran.

















