Ringkasan Berita:
- BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda meminta masyarakat Aceh mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat cuaca panas yang dipicu musim kemarau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Terdeteksi 93 titik api (hotspot) dengan kategori rendah hingga tinggi yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Aceh (seperti Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Selatan, hingga Lhokseumawe).
- Masyarakat dilarang membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan menghindari pembakaran sampah.
Laporan Jurnalis Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
RakyatPos.id, BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Iskandar Muda mengingatkan masyarakat Aceh untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meningkat seiring dengan kondisi cuaca panas yang terjadi di sejumlah wilayah.
Peramal Tugas BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nabila mengatakan, berdasarkan hasil pantauan, terdapat 93 titik api. (hotspot) tersebar di beberapa kabupaten/kota di Aceh. Titik panas tersebut terdeteksi di Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Bireuen, Aceh Singkil, Gayo Lues, Lhokseumawe, Nagan Raya dan Pidie dengan kategori rendah, sedang, dan tinggi.
Menurut Nabila, suhu udara di Aceh rata-rata mencapai 35,6 derajat Celcius pada 15 Juli 2026, kemudian turun menjadi 33,4 derajat Celcius pada 19 Juli 2026.
Namun kondisi tersebut masih menunjukkan cuaca yang relatif panas.
Dia menjelaskan, saat ini sebagian besar wilayah Aceh sudah memasuki musim kemarau.
Namun ada beberapa wilayah yang merupakan wilayah non-Zona Musim (non-ZOM) sehingga masih berpotensi mengalami hujan sepanjang tahun, seperti Aceh Jaya, Aceh Selatan, dan Nagan Raya.
Kondisi cuaca panas dipengaruhi musim kemarau yang menyebabkan pasokan uap air dan kelembaban udara menjadi minim, ujarnya.
Baca juga: Kolam Mata Ie Kering, 13 Ribu Pelanggan PDAM Terdampak
banding BMKG
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan yang dapat dipicu oleh kondisi cuaca kering dan panas.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, menghindari pembakaran sampah, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Selain itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk menggunakan alat pelindung diri seperti jaket, topi, dan kacamata anti radiasi UV, serta memperbanyak konsumsi air mineral untuk mencegah dehidrasi.
Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan pada musim kemarau masih ada potensi hujan lebat mendadak pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini dipicu oleh pemanasan yang intens pada siang hari sehingga memicu tumbuhnya awan konvektif.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat berkendara.
Sebab, cuaca buruk bisa disertai angin kencang, hujan lebat, banjir, dan longsor di sejumlah wilayah rawan, tutupnya.

















